Tampil Percaya Diri Sebagai Full Time Mother

Berbicang tentang rasa percaya diri, saya pernah merasa sangat percaya diri pada hal-hal tertentu dan kondisi tertentu. Tetapi ada masanya saya mengalami krisis percaya diri yang drastis sehingga saya sulit bangkit dari keadaan suram tersebut. Memang, rasa percaya diri tidak muncul begitu saja pada diri seseorang ada proses tertentu didalam pribadinya sehingga terjadilah pembentukan rasa percaya diri. Kali ini saya ingin berbagi kisah proses tumbuhnya rasa percaya diri dalam kehidupan saya.

Krisis Percaya Diri

Menapaki karir sebagai peneliti seolah membuat hidup saya berarti walau harus bergelut dengan virus-virus penyebab penyakit nomor wahid di negeri ini. Saya benar-benar menyukai pekerjaan. Rasanya excited menemukan hal-hal baru. Kolega dan atasan yang baik dan penuh perhatian membuat saya makin semangat bekerja. Apalagi saya mendapat tawaran untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Rasanya saya benar-benar berada di puncak karir.
Namun, saya juga dihadapkan pada dilema. Putra-putri saya seperti kurang perhatian terutama putri bungsu saya yang baru berumur tiga tahun. Dia harus menjani hari-harinya di day care. Terkadang mucul rasa iba dan tak tega meninggalkannya bersama anak-anak lain walaupun didampingi pengasuh yang terdidik dan berpengalaman. Perlahan saya pun merasakan ada perubahan pada diri putri saya, tubuhnya terlihat lebih kurus dan sering sakit-sakitan. Putri saya juga menjadi pemurung dan mudah tantrum.

Diskusi yang panjang bersama suami membuahkan satu keputusan fenomenal, saya harus berhenti bekerja demi anak-anak. Tugas utama seorang ibu adalah sebagai baby sitter anak-anaknya, begitulah alasa suami saya. Semenjak saat itulah, saya memulai karir sebagai full time mother atau ibu rumah tangga.

Awalnya semua berjalan lancar, saya bahagia mendampingi dan membersamai putra-putri saya. Saya sangat bersyukur bisa menjadi saksi berbagai milestone yang mampu dilampaui oleh putri saya, bukan sekedar mendengar laporan dari pengasuh day care. Sayang, perasaan bahagia itu, perlahan memudar seiring dengan intensnya pertanyaan dari tetangga tentang alasan saya berhenti bekerja. Penuh selidik mereka juga ingin tahu kondisi saya di rumah, “Apa enggak jenuh di rumah terus, Jeng?” pertanyaan yang kerap mampir di telinga saya. Belum lagi statement nyinyir yang menusuk telinga, “Sekolah tinggi-tinggi, kok cuma jad ibu rumah tangga. Sayang banget ya.”

Asumsi ibu rumah tangga enggak keren dan kurang kekinian mulai menyergap benak saya. Ibu rumah tangga hanyalah seorang wanita yang sibuk di ranah domestic dengan tiga sur (sumur, dapur, dan kasur). Rasa percaya diri saya runtuh seketika. Tanpa saya sadari, saya mulai menarik diri dari lingkungan sosial, enggan bertemu dengan orang lain. Saya juga jadi sangat baper, tanpa alasan yang jelas menangis tersedu-sedu. Persoalan kecil saja sudah cukup membuat saya sebel setengah mati, ujung-ujungnya anak yang jadi korban pelampiasan amarah yang tak terkendali.

Menemukan Titik Balik

Entah berapa lama saya mengalami masa suram, saya tidak tahu pasti. Hingga secara tak sengaja menyaksikan acara talk show di sebuah televisi swasta yang membahas Post Power Syndrome (PPS). Berdasarkan pemaparan nara sumber tentang ciri-ciri dan gejala orang yang mengalami PPS, tampaknya ada pada diri saya. Inilah yang menjadi titik balik bagi saya. Setelah sadar dengan apa yang saya alami akhir-akhir ini, maka saya mulai banyak belajar dan terbuka dengan saran dari orang-orang terdekat untuk mengatasi masalah kejiwaan yang mendera saya.

Seorang sepupu saya menyarankan agar saya bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesional (IP) yang diprakarsai oleh Ibu Septi Peni Wulandari. Sebuah perkumpulan para ibu yang siap belajar menjadi ibu professional. Menapaki karir sebagai Full time mother bukanlah pilihan mudah. Seorang wanita yang memilih sebagai Ibu rumah tangga juga sudah menunjukkan pilihannya untuk taat kepada Allah dengan mematuhi perintahnya yang termaktub di Surah Al-Ahzab ayat 33. Selain itu, jika seorang wanita sudah mantap dengan pilihan sebagai ibu rumah tangga artinya dia siap memasuki gerbang universitas kehidupan dan aktif menjadi ibu pembelajar. Di pundak para ibu telah dititipkan tugas mulia untuk mendidik putra-putrinya menjadi generasi yang tangguh pada zamannya, layaknya generasi ashabul kahfi, kokoh imannya, kuat fisiknya, cerdas pikirannya.

Saya memulai sebuah langkah penuh optimis, mengubah paradigma ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga harus tampil percaya diri agar mampu menularkannya kepada anak-anaknya. Asumsi bahwa profesi bu rumah tangga tidak keren menguap bersama keaktifan saya belajar tentang banyak hal di komunitas IIP. Saya menambah wawasan tentang ilmu parenting, manajemen keluarga dan tetap produktif walaupun tidak meninggalkan rumah. Produktif disini tidak selalu diartikan menghasilkan uang tetapi lebih memberi manfaat kepada sesama. Saya sendiri mulai aktif menulis lagi setelah sekian lama tak pernah menyentuhnya karena sibuk bekerja dan mulai memiliki blog. Menulis tentang banyak hal, apalagi bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain sungguh sangat berarti bagi saya. Rasanya senang bisa berbagi manfaat dengan orang lain. Kepercayaan diri saya mulai bersemi lagi. Ternyata benar bahwa menulis bisa menjadi terapi penyakit jiwa yang sulit terdeteksi.

Kini bila ada yang bertanya apa profesi saya maka saya akan menjawabnya penuh percaya diri sebagai full time mother. Profesi yang membanggakan yang mendapat gaji langsung dari Allah. Walau perjalanan baru dimulai saya akan terus belajar, bukan sekedar menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga ala kadarnya tetapi menjadi ibu rumah tangga yang all out hingga naik level yang lebih tinggi menjadi ibu professional. Itulah harapan saya dan semoga Allah memudahkan langkah ini. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s