Janganlah Marah, Surga Untukkmu

personal-804763_640.jpg

Rintik hujan masih menyisakan aroma tanah dan rumput yang segar.  Angin dingin berhembus perlahan.  Shakira merapatkan jaketnya dan terus mengayuh sepeda perlahan karena jalanan yang licin dan berlubang penuh genangan air.  Sepuluh menit kemudian, Shakira tiba di rumah Renata, teman sekelasnya.  Rumah dengan bangunan kuno masih terlihat kokoh.  Halaman depan dipenuhi aneka tanaman bunga beraneka jenis.  Mawar dan anggrek memamerkan warna bunga yang indah seolah ingin mengucapkan selamat datang.  Di pojok sebelah kiri berdiri pohon mangga arum manis yang rajin berbuah.

Sepeda mini Shakira diparkir tepat di bawah pohon mangga yang sedang berbunga lebat.  Ternyata Rudi, Syifa dan Arka sudah tiba lebih dulu.

“Maaf ya, teman-teman aku telat nih,” Ujar Shakira sembari melepas jaket.

“yuk… masuk,” ajak Renata ramah.  “Di luar dingin, lho.” Sambungnya lagi.

Mata Shakira terbelalak kala melihat teman-temannya telah siap dengan berbagai alat menggambar.  Pensil warna, krayon dan cat air tersusun rapi di meja berdampingan dengan buku gambar yang telah terbuka.  “Wah… kalian curi star, ya,” dengus Shakira, “Kok enggak nunggu aku sih,” keluh Shakira pendek.

“Kami belum mulai, kok,” sahut Arka.  “lagian mana kami berani ninggalin Shakira yang cantik,” celoteh Syifa disambut derai tawa temannya.  “Ah, kalian ini selalu aja godain aku,” Shakira memoyongkan bibirnya.  Shakira mengeluarkan peralatan menggambar dari tas ransel merah muda miliknya.

Hari minggu sore Shakira dan teman-temannya memang berjanji untuk menyelesaikan tugas menggambar.  Syifa yang memang jago melukis selalu semangat menggajari Renata, Arka, Rudi serta Shakira teknik menggambar.  Membuat garis lengkung, lingkaran dan tralala …  jadilah lumba-lumba meloncat di permukaan laut.  Bak seorang maestro, Syifa pun tak ragu mengajari kawan-kawannya mewarnai, bisa menggunakan krayon, spidol ataupun cat warna.  Sedangkan rumah Renata selalu dipilih jadi pos untuk mengerjakan tugas sekolah lantaran rumahnya yang asri dan luas.  Selain itu, tak lain karena ibu Renata yang pintar membuat kue-kue enak.  Sudah bisa dipastikan setiap pulang kerja kelompok anak-anak kelas 4 itu, pulang dengan perut kenyang.

Dan … saat cuaca dingin begini Ibu Renata menyuguhkan risoles mayo yang yummy serta susu coklat hangat.  Langsung deh, Arka dan Rudi mencomot kue serta menyeruput minuman yang tersaji.

“Tiap hari belajar bareng di rumah Renata, Aku nggak bakal nolak dech,”celoteh Rudi riang.  Semua mata tertuju ke arah Rudi yang berbadan subur dan tersenyum lebar seakan mengiyakan ucapannya.

Anak-anak itu terus bercanda, saling lempar kata hingga lupa pada tugas semula.  Arka menggoda Rudi yang tak mampu mengerem nafsu makannya.  Tak sengaja, Arka menyenggol tangan Rudi sehingga gelas ditangannya jatuh dan isinya membajiri buku gambar Renata.

“UPS …,” pekik Shakira tertahan.

“Ya ampun kalian…” seru Renata panik sambil berusaha membersihkan buku gambarnya.  Sayang, usahanya sia-sia.  Justru susu coklat meyebar keseluruh permukaan kertas.  Gambar air terjun di bawah lengkungan pelangi Renata hancur.

Wajah Renata memerah marah.  “Kalo bercanda hati-hati dong! Suara Renata bergetar tanda benar-benar marah.

“Maaf, Ren kami nggak sengaja,” dua bocah laki-laki itu kompak menyahut salah tingkah.

Berulang kali, Rudi dan Arka meminta maaf namun Renata tetap marah.  Jangankan tersenyum ramah, bertemu pun Renata tak mau.

“Ren, ayolah maafkan mereka berdua,”bujuk Shakira.  “Iya, Ren nggak baik loh marah ke teman,” sambung Syifa berusaha mendamaikan teman-temannya.

“Kenapa sih, kalian malah belain mereka?”

“Jangan salah paham.”  Shakira menyentuh pundak Renata.  “Kita, kan sudah lama berteman.  Jangan sampai masalah kecil membuat kita bermusuhan,” ucap Renata lembut.

Rupanya perkataan Shakira mengingatkan Renata tentang tausiah Ustadz Salim seminggu yang lalu saat peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW.  Wajah yang bercahaya terpancar karena akhlak beliau yang mulia.  Rasulullah tidak pernah marah justru beliau selalu memberi maaf sekalipun kepada musuhnya.  Renata merasa malu sekali.  Kenapa dirinya tidak meneladani Rasulullah.  Benar kata Shakira, hanya karena persoalan sepele saja kok terus marah-marah dan hampir putus tali silaturahim.

Arka dan Rudi berlari ke arah Renata, Syifa dan Shakira.  Dengan napas tersengal-sengal, Rudi berkata, “kamu udah nggak marah lagi, kan Ren?”

Renata mengangkat bahu, “Entahlah, asal kalian mau mengganti gambarku.  Mungkin aku mau memaafkan.”

Sontak saja wajah Arka dan Rudi masam.  Mengganti gambar Renata, rasanya enggak mungkin lah.  Karena Renata lebih pandai dibandingkan mereka berdua.  Dengan raut muka memelas Rudi menatap Syifa memohon bantuan.  Namun, Syifa pura-pura tak melihat.  “Kalian yang berbuat, ya kalian juga yang bertanggung jawab,” seloroh Syifa sambil mengedipkan mata ke arah Renata.  Ho…ho kini Arka dan Rudi paham jika ketiga anak perempuan itu sedang mempermainkan mereka.

“Kalian jahat, ya.”  Arka memukul pundak Renata pelan.  Tak lama kemudian, gelak tawa kelima sahabat memecah kesunyian halaman sekolah.  Hm… indahnya persahabatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s