Bazar Barang Bekas

kitsch-974070_640

Setengah berlari Hanum menghampiri Bunda yang sudah menunggunya di halaman sekolah.  Senyumnya mengembang dan matanya memancarkan binar-binar keceriaan.

“Ada apa sih.  Kok keliatannya happy banget?” sambut Bunda sambil mengenakan helm.  Hanum hanya mengangkat bahu dan terus naik ke jok motor di belakang Bundanya.  Rupanya Hanum sedang merahasiakan sesuatu.

Setelah selesai makan siang Hanum sibuk mencari sesuatu.  Lemari pakaiannya dibuka lebar-lebar.  Satu-persatu bajunya dikeluarkan.  “Kok ngga ada, ya,” seloroh Hanum lirih.  Wajah Hanum tampak tegang.

“Bunda!” seru Hanum  “Baju-baju Hanum yang lama dimana?”

“Baju lama?” Bunda mengernyitkan dahi, “Maksud Hanum, baju yang sudah kekecilan dan tak terpakai lagi?” tegas Bunda.  Hanum mengangguk mantap.

“Baju-baju itu kan sudah dihibahkan ke panti asuhan.”

Raut wajah Hanum tampak sedih dan kecewa.  Apa yang akan dibawanya untuk acara Bazar Barang Bekas minggu depan.  Apalagi teman-teman sekelasnya kelihatan sangat antusias dan hampir semuanya telah mengumpulkan barang untuk dijual.  Ranti membawa buku-buku cerita.  Farel mengangkut mainan lamanya untuk bazar.  Hanifa merelakan komik-komik dan bonekanya.  Hanum sadar tidak punya banyak buku.  Buku bacaannya semua hasil pinjaman dari perpustakaan.  Orang tua Hanum juga bukan dari keluarga yang berada, sehingga jarang sekali membelikan mainan untuk Hanum.  Satu-satunya benda yang bisa dipakai untuk Bazar Barang Bekas hanyalah baju-baju lamanya.  Rencananya, baju-baju tersebut akan di cuci setrika hingga harum dan dikemas rapi sehingga tampilannya tidak seperti baju bekas. Namun, baju-baju itu sudah diberikan Bunda ke Panti asuhan.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Bunda masuk ke Kamar Hanum.  Penuh kasih sayang Bunda berujar, “Kenapa sih putri Bunda yang cantik terlihat murung?”  Seketika Hanum memeluk Bundanya dan menagis tersedu.  Bersamaan dengan derai air mata, Hanum menceritakan rencana sekolah mengadakan bazar barang bekas dan kegalauan hatinya karena tidak bisa membawa sesuatu untuk acara tersebut.

Bunda tersenyum lebar, “Acaranya minggu depan, kan?  Masih ada waktu untuk menyiapkannya.”  Hanum menatap Bunda tak mengerti, “Menyiapkan apa, Bun?”  Lagi-lagi Bunda tersenyum misterius sembari berkata, “Kita lihat besok saja.  Sekarang Hanum tidur dulu sudah malam.”

Kemasan kardus susu UHT 1 liter, kertas kado, kertas origami, lem dan pita telah siap di ruang tengah rumah Hanum.  Kardus susu UHT akan diubah jadi celengan cantik.  Jemari Hanum cekatan menggunting kertas kado.  Bunda membuat hiasan bunga dari pita.  Setengah jam berlalu sebuah celengan cantik nan indah selesai dibuat.  Yach … kardus susu yang awalnya tak terpakai dibungkus dengan kertas dihias bunga-bunga pita dan gambar kupu-kupu.  Benar-benar menawan.

Setelah selesai membuat sepuluh buah celengan, Bunda mengajak Hanum memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk membuat tempat pensil dan pena.  Kaleng dibungkus dengan kain perca menggunakan lem tembak kemudian dihias menggunakan pita-pita.  Sederhana sekali cara membuatnya tetapi hasilnya sungguh cantik, siapapun yang melihatnya pasti jatuh hati.  Bunda juga mengubah mug dan gelas souvenir pernikahan menjadi tampak lebih indah.  Mug dan gelas dicat ulang kemudian dihias dengan aneka gambar sesuai karakter anak-anak dengan teknik decopage.   Wow… hasil kreativitas yang menawan.

“Nah… barang bekas yang us ang kini tampak baru lagi, kan?”

“Bukan sekedar baru tapi indah sekali.”  Hanum sangat kagum melihat hasil kreativitasnya bersama Bunda.

Bazar barang bekas yang diadakan di sekolah Hanum bertepatan dengan acara kelulusan siswa-siswi kelas 6.  Tentu saja pengunjung sangat ramai bukan hanya orang tua wali murid tetapi juga tamu undangan.  Meja tempat Hanum menawarkan barang-barang kreativitasnya dikelilingi pengunjung.  Mereka terpesona dengan celengan, tempat pensil, mug sertagelas hasil buatan Hanum.  Penuh percaya diri Hanum menjelaskan proses pembuatan barang-barang tersebut.  Tak butuh waktu lama semua sudah terjual semua.

Hanum berlari ke tempat Bunda duduk dan memeluk leher Bunda, “Terima kasih Bunda,” bisiknya lirih.  Bunda mencium kening Hanum lembut.  Banyak hal yang dipelajari Hanum saat mengikuti acara bazar barang bekas.  Asalkan mau berusaha dan berpikir kreatif barang-barang yang tak terpakai bisa diubah menjadi sesuatu yang berharga.  Meneladani sifat Rasulullah tidak mudah berputus asa dan memohon pertolongan dari Allah sehingga dimudahkan segala urusan di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s