Belanja di Pasar Belajar Sabar

fog-79456_640.jpg

Hari kedua tantangan pengendalian diri, tidak dapat saya awali dengan sholat taubat di sepertiga malam.  Bukan karena terlelap dalam dekapan bantal dan selimut tetapi lantaran sang tamu bulanan hadir lebih dulu.  Mungkin itu sebabnya pula dua hari terakhir saya agak sensitif akibat perubahan hormonal.  Well ok, latihan mengendalikan emosi hari ini saya lakukan dengan berbelanja ke pasar karena bertepatan dengan jadwal belanja mingguan.

Sabtu selalu menjadi pilihan saya untuk berbelanja keperluan rumah tangga untuk seminggu kedepan.   Biasanya, saya belanja di pasar tradisional yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah.  Setiap belanja putri bungsu saya tidak pernah ketinggalan.  Saya pribadi tidak melarangnya walau acara belanja menjdi lebih lama.  Justru pasar menjadi tempat pembelajaran yang unik dan komplek.   Di lapak penjual ikan, putri saya (usia 5 th 3 bln) bisa melihat berbagai jenis hasil laut dan tambak.  Misalnya, udang, cumi-cumi, kerang dan aneka jenis ikan.

Pasar merupakan tempat transaksi pembeli dan pedagang.  Maka, di tempat inilah putri saya bisa belajar  mengamati cara pedagang dan konsumen berkomunikasi.  Ada pedagang yang sangat ramah menjajakan jualannya, ada  yang ketus dan ada pula yang galak.  Seni tawar menawar harga pun menjadi perhatian yang menarik.  Yah… tak dapat dipungkiri pasar mengajari saya untuk mengendalikan emosi menghadapi berbagai karakter para penjual.

Selain itu, di pasar saya benar-benar dilatih untuk sabar.  Pastinya sabar menghadapi godaan dan menahan keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan.  Bukan hanya saya, putri saya pun saya latih untuk membeli benda yang dibutuhkan dan bukan yang diinginkan.  Latihan ini tidak selalu berjalan mulus.  Seringnya diikuti drama-drama kecil yang menguras emosi.  Putri saya merengek minta dibelikan ini dan itu padahal daftar belajaan masih banyak yang belum terbeli.  Sekali lagi, pasar menjadi tempat melatih pengendalian emosi.

Dulu sih, saya sering terbawa emosi kalau putri saya mulai merajuk, saya ikut ngambek dan akhirnya acara belanja berantakan.  Namun, drama-drama kecil yang tragis tidak akan terulang lagi.  Mulai hari ini, saya sudah menyiapkan jurus-jurus jitu menghadapi situasi jika putri saya mulai merajuk dan merengek.

Semua keperluan hampir semua sudah didapat.  Tepat di sebelah lapak buah tempat saya membeli semangka untuk berbuka, ada penjual kembang api.  Putri saya sudah mulai meliriknya dan beberapa detik kemudian menarik tangan saya, “Bunda, aku mau kembang api,” rengeknya.  Yes… inilah saatnya mencoba tips dan trik yang sudah saya pelajari.  Tips pertama, saya agak menunduk sehingga mata kami saling bertatapan.  Tips kedua, tersenyum lebar dan berkata ramah, “Sayang, sebaiknya beli benda lain yang lebih bermanfaat, ya.  Kembang api lebih banyak kemudharatannya ketimbang manfaatnya.”

Putri saya menatap saya lekat dahinya berkerut tanda sedang berpikir.  Dalam hati, saya menduga bahwa putri saya paham dengan penjelasan saya.  Kami pun melanjutkan berbelanja keperluan bahan pangan lainnya, sesekali saya melirik putri saya.  Wajah gadis mungil tidak menunjukan keceriannya yang khas, “Jangan-jangan dia masih memikirkan kembang api tadi,” bisik hati saya.  Olala, dugaan saya benar.  “Bunda,  beliin kembang api, ya,” rajuknya lagi.  “Satu aja,” lanjutnya dengan wajah memelas.  Wah, kalau sudah begini gantiaan saya yang tidak tega.  Tapi saya ingin menguji putri saya dan juga menguji kesabaran saya sendiri.

Saya mengulangi tips pertama, menunduk hingga kami saling beradu mata sembari menarik napas dalam-dalam sementara otak berpikir memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan.  Kemudian tersenyum lebar dan berkata ramah, “Adik, benar-benar butuh kembang api atau hanya ingin kembang api?”  Gadis mungil itu menunjukkan wajah cemberut sambil berkata, “Aku ingin main kembang api.”

“Jadi, adik Cuma ingin kan? Bukankan kita sudah sepakat kita akan membeli barang yang dibutuhkan bukan diinginkan,” ujar saya tetap sambil tersenyum.  Butiran bening mulai membasahi mata bulat putri saya.  Tampaknya dia benar-benar kecewa karena tidak mendapatkan keinginannya.  Sebenarnya, saya sendiri tidak tega melihatnya.  Namun, kami berdua sedang belajar dan berlatih mengendalikan emosi serta belajar sabar menghadapi kenyataan hidup.  Saya memeluk bocah mungil itu dan berbisik “I love you.”  Putri saya pun membalas pelukan saya dan mengucapkan “Aku juga sayang Bunda.  Kalau aku beli buku gambar boleh,” pintanya.  Senyum mulai mengembang di bibirnya.  Saya mengangguk tanda setuju.  “Boleh, adik kan memang butuh buku gambar karena buku yang di rumah sudah penuh lukisan adik yang keren.”

Tanpa saya sadari beberapa pasang mata menatap kami menyaksikan adegan  melo tanpa skenario.  Kami bergegas ke toko peralatan alat tulis membeli buku gambar dan spidol warna.  Sesampainya di rumah, si bungsu sudah bercerita panjang lebar dengan ceria.  “Bunda, aku mau gambar ikan yang di pasar.  Aku juga mau gambar semangka merah yang segar,” celotehnya penuh binar bahagia.  Tampaknya, saya dapat melalui tantangan hari ini dan masih banyak tantangan lain yang lebih hebat di hari esok.  Siapkan energi dan amunisi stok sabar agar terus mampu mengendalikan emosi demi lancarnya komunikasi.

Surabaya, 8 Ramadhan 1438 H

#level1

#day2

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s