Proses dulu Respon Kemudian

Teknik pengendalian emosi yang saya pelajari di tantangan hari ketiga yaitu ‘Proses Dulu Respon Kemudian’ .  Teknik ini megajari kita untuk mengendalikan diri agar menghindari respon spontan terhadap komentar atau ucapan lawan bicara serta kejadian yang kita alami.  Respon spontan bisa menyakiti hati lawan bicara atau memerumit keadaan.  Beda halnya jika ucapan serta kejadian yang kita hadapi dicerna dan diproses lebih dahulu setelah itu barulah meresponnya.

Teorinya memang mudah namun tidak dengan prakteknya.  Apalagi saya sangat responsif mudah sekali terpicu untuk melakukan respon spontan.  Sebagai contoh, saat putri bungsu saya menumpahkan susu ke lantai.  Secara spontan, saya bisa menunjukkan raut wajah tak suka dan mengeluarkan komentar yang kurang terpuji sehingga putri saya merasa sangat bersalah.  Itulah sebabnya, saya harus berusaha sekuat hati untuk melatih diri memproses semua informasi yang masuk sebelum meresponnya.

Hari libur semua anggota keluarga berkumpul di rumah.  Pagi hari, kami berolahraga bersama di sekitar taman dekat rumah.  Ayah dan kakak main badminton sementara saya dan si bungsu hanya jalan sehat mengelilingi taman.  Perseteruan sempat terjadi ketika kakak mengajak pulang karena sudah lelah sedangkan putri saya bersikeras tidak mau pulang lantaran masih ingin main ayunan.  Adu mulut antara kakak dan adik tak dapat dihindari.  Tidak tahan melihat keributan kecil, spontan saya langsung menengahi.  Namun, dalam perjalanan pulang saya menyesal seharusnya saya tidak segera melerai pertengkaran kedua anak saya.  Bukankah sebaiknya saya biarkan otak saya memproses semua kejadian tersebut lebih dulu.  Sehingga saya bisa melihat hal positif yang diperoleh dari pertengkaran keduanya.  Mungkin saat itu, mereka bisa belajar untuk berdiskusi mencari solusi terbaik.

IMG-20170604-WA0008.jpg

Saya masih sering gagal menerapkan teknik ‘Proses dulu Respon kemudian’.  Berharap dengan latihan intens semoga saya lebih mahir menggunakan teknik tersebut.  Jika hari ini saya masih kesulitan semoga esok lebih baik lagi.  Tetap semangat dan selalu optimis dan selalu berdoa agar Allah memberi kemudahan.  Saya benar-benar ingin menjadi orang tua yang baik.  Berubah atau kalah, petuah dari Ibu Septi akan senantiasa saya ingat dan menjadi cambuk untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Surabaya, 9 Ramadhan 1438

#level1

#day3

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s