Merajut Sabar

Ups… tak terasa sudah masuk tantangan hari keempat.  Masih seputar mengendalikan emosi kala berkomunikasi dengan anggota keluarga.  Rasanya kok, semakin kuat saya berusaha mengendalikan emosi semakin banyak cobaannya.  Benarlah, kata pepatah sabar latihannyasetiap hari agar bisa naik level yang lebih tinggi.

Pagi tadi nyaris kesiangan bangun untuk sahur.  Salah saya juga sih ngapain pake acara begadang menyelesaiakan tulisan yang sudah deadline.  Lamat-lamat, saya mendengar suara alunan ayat suci Al-Qur’an dari pengeras suara masjid.  Itu tandanya hampir adzan subuh.  Saya langsung beranjak bangun dan berwudhu serta menyiapkan sahur.  Tragedi terjadi ketika si sulung tak jua melepaskan guling.  Dia masih terlelap di kasur walau pak suami sudah membangunkannya berulang kali.  Entahlah, tiba-tiba saya jadi panik dan membangunkan si sulung dengan suara meninggi.  Sesaat, saya tersadar telah terpeleset lagi dan lagi melakukan kesalahan yang sama.  Astaghfirullah aladzim… segera saya beristighfar.  Saya kembali ke aturan pertama.  Tarik napas dalam dan hembuskan perlahan.  Sejenak memenuhi rongga otak dengan oksigen agar dapat berpikir dengan tenang.  Kemudian , saya berusaha tersenyum meskipun terlihat hambar dan mencoba berkata ramah.  Sesekali saya memijat kaki kakak sampai dia bangun untuk sahur.

Kejadian menjelang fajar membuat saya sadar bahwa latihan mengendalikan emosi tidak bisa instan butuh ketekunan dan komitmen.  Pernah suatu kali saya membaca artikel jika kegiatan merajut dapat membantu untuk mengendalikan emosi.  Untuk itulah, saya mencoba untuk belajar merajut.  Sebenarnya, aktivitas ini masuk ranah suka tetapi tidak bisa.  Beruntung, saya punya kakak yang pandai merajut.  Tentu saja, saya langsung berguru kepadanya.

Ternyata merajut tidak serumit yang saya bayangkan, asalkan konsentrasi, merajut jadi mudah dan menyenangkan.  Saat memilih warna benang, menentukan pola dan mulai merajut ada sensasi yang tak dapat diungkap lewat kata-kata.  Sehingga, selain melatih kesabaran merajut juga dapat mengurangi stres dan membuat otak fresh.   Manfaat lain, aktivitas merajut merupakan salah satu cara terbaik guna mengakitifkan fungsi otak.  Secara tidak langsung merajut dapat berfungsi mencegah kemunduran daya kognitif atau pikun.

merajut.jpg

Rupanya Raisa (putri bungsu saya), juga mau belajar merajut.  Tangan-tangan mungilnya berusaha memegang benang dan jarum rajut.  Tampak dia kesulitan namun, Raisa pantang menyerah.  Mungkin Raisa butuh jarum rajut yang lebih kecil sehingga tangan mungilnya lebih mudah untuk menggenggam jarum tersebut.  Merajut juga memiliki banyak manfaat untuk anak-anak.  Misalnya, melatih konsentrasi dan koordinasi mata dan tangan.  Merajut bagi anak sangat baik untuk stimulasi yang hampir seluruh bagian otak dimulai dari perencanaan, informasi navigasi, informasi visual, memori dan motorik halus.

Wah, banyak sekali manfaat merajut ya.  Saya sendiri jadi ketagihan belajar merajut.  Lantaran setelah merajut saya merasa rileks dan fresh seolah siap menghadapi segala tantangan untuk melatih mengendalikan emosi dan mengisi stok sabar yang hampir habis.  Mungkin, merajut bisa menjadi pilihan untuk aktivitas me time agar ibu kembali bahagia dan tidak uring-uringan.

Surabaya, 10 Ramadhan 1438H

#level1

#day4

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s