Komunikasi Lancar Kala Hati Tenang

Purnama nyaris penuh menerangi angkasa tatkala kami berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Isya dan tarawih berjamaah.  Namun, semua berubah dengan cepat.  Awan gelap menggantung di langit menghalau cahaya rembulan.  Tepat tengah malam hujan deras pun mengguyur kota Pahlawan.  Hujan yang penuh Rahmat seolah ingin menebarkan kesejukkan setelah Surabaya diterpa panas yang menyengat selama beberapa hari.

Selepas sholat shubuh Fikri (13 th) dan Raisa (5 th) kembali ke peraduan.  “Wah… shalih, shalihah kok tidur lagi,” ucap saya.  “Ngantuk, Bun.  Dingin banget,” sahut Raisa.  “Memang sih dingin.  Tapi sekarang kan waktunya tilawah dan murojaah,” ujar saya.  “Ayolah, pejuang shubuh tak boleh kalah sama dingin,” sambung saya penuh semangat.   “Aku ngajinya habis sholat Dhuha aja, Bun.” Kali ini Fikri yang menyahut.  “Aku juga murojaahnya abis dhuha,” Raisa menimpali kompak banget dengan kakaknya.  Ada kecewa yang menggeliat di hati.  Kenapa mereka jadi malas begini, pikir saya.  Sesaat, saya ingin mereka segera menuntaskan kewajibannya namun saya segera sadar bahwa mereka tetaplah anak-anak yang sekali-kali ingin dispensasi.  Well ok, tak apalah jika kali ini mereka meringkuk memeluk guling lagi.  Saya harus tetap rileks dan optimis agar emosi tak meninggi.

Aroma tanah yang basah masih menyeruak saat saya membuka pintu rumah.  Angin dingin berhembus perlahan membuat tubuh ini menggigil.  Sudut ekor mata saya tertuju ke arah rerumputan liar di halaman depan rumah yang mulai tumbuh subur.  “Harus segera dibersihkan” bisik batin saya.  Maka, saya mengambil arit, sapu lidi dan serok sampah siap berjibaku dengan sang rumput.  “Bunda mau ngapain?” Tanya Raisa yang baru bangun tidur.  “Mau bersihin rumput di depan rumah,” saya menjawab singkat.  “Ikut dong!” seru Raisa.  Tak seberapa lama, gadis kecil itu sudah berada di samping saya yang sedang mencabut rumput.

“Bun, kok rumputnya dicabutin, sih?” Raisa tampak penasaran.  Dahinya berkerut seakan berpikir keras.

“Biar bersih, dong.  Kalau rumahnya ditumbuhin rumput kelihatannya kotor dan tak terawatt,” jelas saya dengan nada rendah agar Raisa tidak merasa digurui.  “Ehm, siapa sih yang menciptakan rumput?” Tanya saya santai.

“Ya Allah lah.  Masak gitu aja Tanya.  Bunda ini aneh,” sahut Raisa.  Dalam hati, saya berkata, Anak sekarang yah pinter banget ngomong.  “Terus, kenapa Allah menciptakan rumput?”  Bocah mungil itu diam sesaat, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.  “Aku tahu!” serunya mengangetkan saya.  “Allah menciptakan rumput untuk makanan sapi, kambing, rusa dan kelinci,” celotehnya riang.  Saya tersenyum lebar.  “Kalau Allah enggak menciptakan rumput, sapinya enggak makan ntar kurus dong terus enggak ada susunya.  Terus aku enggak bisa minum susu.” Raisa cemberut mungkin dia sedang membayangkan tidak ada stok susu yang bisa diminumnya.  Maklumlah, gadis kecil itu suka banget minum susu.

Bersih-bersih rumput hampir kelar tinggal sedikit lagi rumput liar yang tumbuh dipojokan.  Tiba-tiba Raisa merayu hendak meminjam arit yang sedari tadi saya pakai untuk mengorek akar rumput.  Saya tidak membolehkannya, karena aritnya sangat tajam, bahaya untuk Raisa yang masih balita.  Tetapi Raisa tetap bersikukuh ingin memakai arit tersebut.  “Raisa bagian nyapu aja, ya” rayu saya dengan intonasi suara ramah.  Gadis mungil itu menggeleng dan memonyongkan bibir, “Enggak mau. Aku mau coba bersihin rumput pakai arit,” desaknya dengan suara keras.  “Eh… aritnya tajam.  Bahaya untuk Raisa,” kilah saya memulai negosiasi sambil terus meredam emosi.  “Sebentar aja, Aku cuma mau coba kok, Bunda.”  Melihat keinginannya yang begitu kuat, setengah hati saya merelakan arit berpindah tangan.  Saya terus mengawasi Raisa yang berusaha mencongkel rumput dengan arit.  Tangan kecilnya mengayunkan arit perlahan dan “Akh… aduh,” jerit Raisa sembari melepaskan arit dari genggamannya.  “Kenapa?” sergah saya panik.  Mata Raisa mulai berair, tangan kanannya nampak memerah lebam.  Ternyata ibu jari tangan kanannya terbentur batu saat berusaha mencongkel rumput tadi.  Syukurlah bukan terkena arit.

Saat panik begini, saya akan menarik napas dalam-dalam.  Diam sejenak agar tidak meluncur kata-kata yang tidak layak didengar anak-anak.  Setelah mencuci tangan Raisa, saya mengelus-elus ibu jarinya yang sakit sambil berkata “Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah hilangkanlah rasa sakit di jari Raisa dan sembuhkanlah seperti semula.”  Itulah mantra yang selalu saya pakai jika ada bagian tubuh Raisa atau fikri yang sakit.  Yah, seperti belaian ajaib, memang ampuh setelah dibelai sebentar saja Raisa berhenti menangis dan kembali beraktivitas.

Pernah suatu ketika, jari saya terluka karena teriris pisau yang lumayan tajam dan darah menetes dilantai.  Putri mungil itu langsung saja membelai telunjuk kiri saya dan berucap persis seperti yang biasa saya katakan.  “Nah, sudah sembuh kan Bun, jarinya gak sakit lagi ya,”  ucapnya sembari tersenyum.  Tapi memang benar ajaib, rasa perih dan nyeri di jari saya seakan lenyap setelah dibelai Raisa.  Mungkin itu pula yang dia rasakan saat saya membelai bagian tubuhnya yang sakit.

Menurut para pakar belaian dan pelukan memiliki banyak manfaat.  Sentuhan atau belaian akan memberikan ketenangan dan kenyamanan.  Saat dibelai atau dipeluk tubuh akan mengeluarkan hormon endomorfin.  Hormon ini berperan mengurangi ketegangan saraf dan tekanan darah sehingga anak akan merasa nyaman dan tenang, dengan demikian rasa sakit juga akan hilang.  Selain itu, hormon ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Anak yang sering dipeluk dan dibelai akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.  Mereka juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat karena merasa disayang, diterima, dan dihargai.  Pelukan dan belaian juga ditengarai dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Inilah cerita saya di tantangan hari keenam.  Sejak bangun tidur saya sudah berkomitmen tidak marah selama membersamai anak.  Dan Alhamdulillah berhasil, justru saya merasa komunikasi diantara kami sangat baik jika emosi tidak naik.  Selain, komunikasi verbal anak-anak juga sangat butuh komunikasi (sentuhan) fisik seperti belaian dan pelukan agar menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Surabaya, 12 Ramadhan 1438

#level1

#day6

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s