Cinta Pertama Sang Putri

Hadirnya bayi perempuan nan mungil seperti embun di pagi hari seolah memberi kesejukan dan kelembutan setelah gelap menghilang.  Bagi ayah, gadis kecilnya merupakan bidadari yang harus disayang, dicintai dan dijaga sepanjang hari.  Bidadari kecil yang selalu dicari sepulang ayah kerja.  Putri kecil itupun, berlari menyongsong Ayah, menghambur dalam pelukannya.  Kerlip mata sang putri dan semua celotehnya bisa menjadi penghalau penat dan lelah setelah seharian bekerja.

Sementara, si gadis mungil mengangap ayahnya adalah pahlawannya.   Ayah menjadi pria pertama yang dikenal anak perempuan.  Tentu saja laki-laki paling jagoan dan bisa diandalkan serta selalu ada untuk anak perempuan adalah Ayah. Sosok tegar yang menghantarkan kehangatan cinta.  Lengan kuatnya merupakan tempat yang paling nyaman untuk menyandarkan segala harapan.  Suara ayah yang serak dan keras terdengar penuh wibawa melayangkan aneka petuah penuh makna.

Akhir pekan bagi keluarga kecil kami, selalu dinanti ananda karena kehadiran Ayah sepanjang hari.  Mereka melakukan aktivitas bersama ayah untuk menghalau rindu yang tiada pernah bertepi.  Putri kecilku selalu menunjukkan wajah ceria bermanja di pangkuan ayah.  Dia akan memohon dan merayu sang ayah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.  Bermain bola, bersepeda keliling komplek, bercerita atau bermain ayunan di taman.  Ah… tak ada yang tak menyenangkan bersama ayah, ujarnya suatu hari.

collage-2017-06-12.jpg

Tak dapat dipungkiri peran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang putri tercinta.  Keterlibatan ayah dalam pengasuhan putrinya dan cinta serta kasih sayang yang ditunjukkan ayah dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, menumbuhkan keberanian dan kemandirian sang putri. Cara Ayah menyayangi dan mendidik putrinya memang berbeda dengan Ibu.  Ayah lebih protektif terhadap anak perempuan.  Bahkan, ada cemburu yang menyelinap kala putrinya beranjak dewasa dan siap memperkenalkan pilihan hatinya.

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu (Lagu D’Masive)

Yah, kehadiran ayah memang ajaib seperti sumber mata air di tanah tandus.  Bagi saya, hari libur dengan kehadiran ayah full di rumah seakan memberi kesempatan bagi saya untuk rehat sejenak membersamai anak.  Sesaat, saya bisa mengurai kusutnya komunikasi yang kadang mengalir searah dengan anak-anak. Saya bisa mengisi pundi-pundi sabar sebagai stok untuk menghadapi hari esok yang penuh hiruk pikuk.

Surabaya, 16 Ramadan 1438

#level1

#day9

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s