Aliran Rasa Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP

friendship-831522_640

Komunikasi baik verbal maupun tulisan menjadi kata kunci untuk menjalin hubungan dengan sesama baik dalam lingkungan kecil seprti keluarga maun lingkungan yang lebih besar (dalam suatu negara).  Banyak hubungan suami istri yang retak lantaran komunikasi yang tidak lancar bahkan muncul peperangan antar negara karena komunikasi yang tersendat.

Saya menukil sebuah kisah inspiratif dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’ yang ditulis oleh Parlindungan Marpaung, runyamnya sebuah hubungan karena komunikasi yang mampet.

Sebut saja Badrun yang sedang bertengkar dengan sang istri.  Pasangan tersebut sama-sama tidak mau mengalah.  Akibatnya, mereka tidak saling bertegur sapa selama beberapa hari lamanya.  Suatu hari, Badrun bekerja hingga larut malam sementara keesokkannya dia harus ke luar kota untuk sebuah tugas.  Tiket kereta api sudah dipesan dan Badrun harus berangkat pukul 05.00 wib.  Artinya Badrun harus bangun pagi sekali jika tak ingin ketinggalan kereta.  Sebenarnya, dia ingin menyampaikan pesan ke istrinya agar dibangunkan menjelang shubuh.  Namun, gengsi membuatnya mengurungkan niatnya sehingga Badrun menulis pesan di secari kertas.  “Bu, besok tolong saya dibangunkan sebelum shubuh karena saya harus ke Jakarta naik kereta jam 5 pagi,” begitu pesan Badrun, kertas tersebut diletakkkan di meja rias istrinya.  Selain itu, Badrun juga menyetel alarm pukul 04.00 di handphonenya.

Keesokkan harinya, Badrun bangun telat karena lelah dan tidurnya sangat pulas sehingga tidak mendengar bunyi alarm dari HP-nya.  Badrun semakin marah ke istrinya karena tidak dibangunkan dan ketinggalan kereta.  Semua emosinya memuncak akan diluapkan ke istrinya tetapi hatinya tercekat ketika membaca pesan yang ditulis istrinya tepat di bawah pesannya.  “Pak bangun sudah jam 4 lho,” isi pesan istrinya.

Kisah di atas memberi pelajaran penting bahwa komunikasi tidak akan berjalan tanpa disertai sentuhan dari hati.  Ya… komunikasi bukan hanya sekedar kata-kata yang diucapkan atau ditulis tapi harus disertai ketulusan dan hati yang bersih.  Jika hati belum bersih dan emosi masih tinggi sebaiknya diam daripada urusan menjadi runyam.  Disinilah perlunya Tazkyatun nafs (pensucian diri) sebelum menjalin hubungan dengan sesama manusia baik kepada anak, suami atau anggota keluarga lainnya.

Saya sendiri sangat bersyukur bisa mengikuti kelas Bunda Sayang.  Tantangan 10 hari game level 1, benar benar memotivasi saya untuk memperbaiki komunikasi dengan keluarga.  Sungguh, memulai komunikasi produktif bukanlah hal yang gampang.  Berkali-kali saya tergelincir sehingga mengulangi kesalahan yang sama.  Namun, semangat yang mengalir dari fasilitator dan teman-teman kelas BunSay memberi saya motivasi untuk terus menerus memperbaiki diri.  Tantangan game level 1 tidak berhenti 17 hari saja tapi tetap saya jalankan dan laporan tertulisnya tercatat di memori sel-sel kelabu saya.  Semakin sering saya berlatih berkomunikasi produktif dengan anak dan suami semakin baik hubungan kami.  Semoga Allah memberi kemudahan dan Rahmat-Nya kepada keluarga kami untuk terus berbenah dan memperbaiki diri.

Terima kasih saya sampaikan kepada semua fasilitator dan teman-teman yang telah berbagi pengalaman, ilmu dan semangat.  Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan mba-mba semua denga kebaikan yang berlipat ganda.  Rasa syukur yang tak terhingga selalu saya panjatkan kepada Allah karena saya mendapat kesempatan untuk belajar dan belajar lagi dan memperbaiki diri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s