Aliran Rasa Tantangan Kemandirian

IMG-20170803-WA0003.jpg

Kedisiplinan dan kekonsistenan saya, benar-benar teruji di game level 2 ini.  Kegiatan yang bertumpuk dipadu dengan rutinitas rumah tangga menghadirkan rasa yang berwarna.  Bahkan saya harus tertatith-tatih membuat laporan tantangan kemandirian anak-anak.  Duh… aliran rasa pun telat dikumpulkan.  Satu pelajaran yang saya peroleh dalam menghadapi dan menyelesaikan game level 2 yaitu semangat dan niat kuat saja tidak cukup.  Perlu dukungan seluruh anggota keluarga dan doa yang kenceng banget agar Allah memudahkan segala urusan.

Pada hakikatnya melatih kemandirian anak tidak akan pernah tuntas.  Raisa memang sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri, menyiapkan keperluan sekolah sendiri dll.  Kemandirian social juga sudah berkembang baik, dia sudah bisa main sendiri  dengan teman sebaya, tidak merengek di sekolah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.  Namun, masih banyak  tantangan kemandirian yang harus dilaluinya seiring dengan bertambahnya usia Raisa dan berputarnya waktu.

Selama 10 hari bahkan lebih saya dan suami saling bahu membahu melatih kemandirian anak-anak.  Banyak pelajaran dan penuh hikmah tidak saja buat anak-anak tapi juga buat kami.  Saya harus belajar membiasakan dan memberi kepercayaan keoada buah hati bahwa mereka mampu melayani dirinya sendiri.  Saya pun harus belajar menjadi ibu tega agar tidak selalu interupsi terhadap kegiatan mereka.  Membiarkan anak-anak menyelesaikan pekerjaan mereka dan sabar menikamati proses serta tidak terburu-buru membantu ketika mereka mengalami kesulitan.

Tantangan demi tantangan yang kami rasakan bukanlah seuah rintangan namun pembelajaran bagi agar tumbuh Adversity Quotient (kecerdasan menghadapai kesulitan) .  Seorang ayah dan ibu sebagai fasilitator dan home educator dituntut untuk memfasilitasi anak agar memiliki  Adversity Quotient (AQ) tinggi.  Seseorang yang memiliki diharapkan akan menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, pantang menyerah, menjadi pembelajar seumur hidup dan mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

Ketika kami melatih kemandirian anak kami juga mendapat bonus berupa anak-anak yang percaya diri dan bertanggung jawab.  Kami semakin bersyukur menikmati tiap tantangan dan selalu berharap semoga selalu istiqomah melatih kemandirian anak hingga bukan sekedar bisa mengerjakan tugas saja tetapi juga menjadi kebiasaan.  Memang butuh waktu yang tidak pendek untuk sampai pada habit (kebiasaan) setidaknya 90 hari harus dilewati tanpa kelus kesah apalagi menyerah.

Terima kasih kepada tim fasilitator yang terus memberi pencerahan dan materi-materi yang sangat inspiratif.  Rasa sayang dan terima kasih juga buat teman-teman kelas BunSay 2 yang selalu mengalirkan semangat dan menghadirkan keceriaan.  Semoga tantangan berikutnya lebih baik lagi.  Aamiin.

#AliranRasa

#GameLevel2

#KelasBunSayIIP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s