Blog

Aliran Rasa Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP

friendship-831522_640

Komunikasi baik verbal maupun tulisan menjadi kata kunci untuk menjalin hubungan dengan sesama baik dalam lingkungan kecil seprti keluarga maun lingkungan yang lebih besar (dalam suatu negara).  Banyak hubungan suami istri yang retak lantaran komunikasi yang tidak lancar bahkan muncul peperangan antar negara karena komunikasi yang tersendat.

Saya menukil sebuah kisah inspiratif dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’ yang ditulis oleh Parlindungan Marpaung, runyamnya sebuah hubungan karena komunikasi yang mampet.

Sebut saja Badrun yang sedang bertengkar dengan sang istri.  Pasangan tersebut sama-sama tidak mau mengalah.  Akibatnya, mereka tidak saling bertegur sapa selama beberapa hari lamanya.  Suatu hari, Badrun bekerja hingga larut malam sementara keesokkannya dia harus ke luar kota untuk sebuah tugas.  Tiket kereta api sudah dipesan dan Badrun harus berangkat pukul 05.00 wib.  Artinya Badrun harus bangun pagi sekali jika tak ingin ketinggalan kereta.  Sebenarnya, dia ingin menyampaikan pesan ke istrinya agar dibangunkan menjelang shubuh.  Namun, gengsi membuatnya mengurungkan niatnya sehingga Badrun menulis pesan di secari kertas.  “Bu, besok tolong saya dibangunkan sebelum shubuh karena saya harus ke Jakarta naik kereta jam 5 pagi,” begitu pesan Badrun, kertas tersebut diletakkkan di meja rias istrinya.  Selain itu, Badrun juga menyetel alarm pukul 04.00 di handphonenya.

Keesokkan harinya, Badrun bangun telat karena lelah dan tidurnya sangat pulas sehingga tidak mendengar bunyi alarm dari HP-nya.  Badrun semakin marah ke istrinya karena tidak dibangunkan dan ketinggalan kereta.  Semua emosinya memuncak akan diluapkan ke istrinya tetapi hatinya tercekat ketika membaca pesan yang ditulis istrinya tepat di bawah pesannya.  “Pak bangun sudah jam 4 lho,” isi pesan istrinya.

Kisah di atas memberi pelajaran penting bahwa komunikasi tidak akan berjalan tanpa disertai sentuhan dari hati.  Ya… komunikasi bukan hanya sekedar kata-kata yang diucapkan atau ditulis tapi harus disertai ketulusan dan hati yang bersih.  Jika hati belum bersih dan emosi masih tinggi sebaiknya diam daripada urusan menjadi runyam.  Disinilah perlunya Tazkyatun nafs (pensucian diri) sebelum menjalin hubungan dengan sesama manusia baik kepada anak, suami atau anggota keluarga lainnya.

Saya sendiri sangat bersyukur bisa mengikuti kelas Bunda Sayang.  Tantangan 10 hari game level 1, benar benar memotivasi saya untuk memperbaiki komunikasi dengan keluarga.  Sungguh, memulai komunikasi produktif bukanlah hal yang gampang.  Berkali-kali saya tergelincir sehingga mengulangi kesalahan yang sama.  Namun, semangat yang mengalir dari fasilitator dan teman-teman kelas BunSay memberi saya motivasi untuk terus menerus memperbaiki diri.  Tantangan game level 1 tidak berhenti 17 hari saja tapi tetap saya jalankan dan laporan tertulisnya tercatat di memori sel-sel kelabu saya.  Semakin sering saya berlatih berkomunikasi produktif dengan anak dan suami semakin baik hubungan kami.  Semoga Allah memberi kemudahan dan Rahmat-Nya kepada keluarga kami untuk terus berbenah dan memperbaiki diri.

Terima kasih saya sampaikan kepada semua fasilitator dan teman-teman yang telah berbagi pengalaman, ilmu dan semangat.  Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan mba-mba semua denga kebaikan yang berlipat ganda.  Rasa syukur yang tak terhingga selalu saya panjatkan kepada Allah karena saya mendapat kesempatan untuk belajar dan belajar lagi dan memperbaiki diri.

 

Ajaibnya Kata Terima Kasih

terima kasih.jpg

Setelah sepuluh hari berjibaku dan jatuh bangun mengelola emosi untuk mewujudkan komunikasi produktif dalam keluarga kami.  Akhirnya saya sampai pada titik rasa syukur yang memenuhi seluruh jiwa dan raga. Belajar mengelola emosi tidaklah mudah dan tak akan pernah mencapai garis finis.  Benar memang, mengelola emosi ada ilmunya dan berkaitan dengan tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa).  Mengelola emosi tidak hanya melatih mengatasi emosi negatif tetapi juga lepas dari autopilot parenting.  Sadar bahwa membentak anak merupakan hal yang salah namun masih saja melakukannya.  Pengasuhan buah hati semakin sulit karena belum mampu menuntaskan inner child.

Salah satu cara untuk healing inner child yaitu dengan Tazkiyatun Nafs (membersihkan diri).  Melakukan sholat tobat memohon ampun dan pertolongan kepada Allah.  Seorang ibu memang harus menuntaskan masalah pada dirinya  agar tidak menjadi orang tua bersumbu pendek yang selalu melampiaskan amarah masa lalu kepada putra-putrinya. Belajar berdamai dan memaafkan masa lalu sembari menatap masa depan dengan penuh rasa syukur.

Rasa syukur kepada Allah dapat diaplikasikan dengan selalu mengucapkan terima kasih kepada pasangan dan buah hati.  Kata terima kasih yang tulus memiliki makna sangat dalam serta ada penghargaan terhadap orang lain yang tersirat di dalamnya.  Terima kasih juga merupakan wujud rasa syukur yang besar kepada Allah SWT. Coba mari kita renungkan sejenak hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Aisya ra.  Rasulullah SAW bersabda “Orang-orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah ialah orang-orang yang paling banyak bersyukur/ berterimakasih pada orang-orang (Al Mu’jam Al Kabir Lit Tabrani).

Yah, bagi saya kata terima kasih seperti mantra yang penuh magic.  Dulu saya selalu mengatakan pada anak saya” ayo habiskan makannya.” Namun sekarang saya menggantinya dengan kalimat “Bunda akan sangat berterima kasih kalau Mas mau menghabiskan makannya.”  Atau “Bunda akan sangat berterima kasih kalau adik mau membereskan mainan.”  Hanya dengan mengubah bahasa saja hasilnya sangat luar biasa.  Banyak sekali perubahan pada diri anak saya karena perasaan dihargai membuatnya lebih mandiri dan tanggung jawab.

Alangkah indahnya jika rumah kita selalu dihiasi dengan ucapan terimakasih sebagai wujud rasa syukur kita pada Ilahi. .  Misalnya, “Terima kasih, ya Yah, sudah nganterin Bunda ke pasar.” Atau “Terima kasih ya, sudah bantuin nyuci baju.”  Suatu ketika Ayah berucap ”Terima kasih untuk segelas kopi yang nikmat ini, ya Bunda” atau “Terima kasih Bunda karena telah melahirkan bocah-bocah mungil yang mewarnai hidup kita”.  Selain itu, Ayah dan Bunda juga bisa mengucapkan terima kasih untuk anak-anak ”Terima kasih, ya Nak sudah bangun pagi tepat waktu” atau terima kasih sayang karena sudah mengerjakan PR dengan baik” bisa juga terima kasih ya nak sudah sholat maghrib dengan tertib”.  Maka InsyaAllah anak-anak pun akan mengucapkan terimakasih pada orangtuanya, ” terimakasih Bunda, sarapannya enak sekali” atau “terimakasih Ayah, sudah mengantarku sekolah.”

Saya pun, memulai hari dengan mengucapkan terima kasih kepada Allah karena telah menganugerahkan guru-guru kecil kepada saya.  Yah, kehadiran bocah-bocah mungil itu, memamg menjadikan saya seorang pembelajar.  Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi koki, dokter, perawat dan manager keuangan yang handal.  Meskipun tingkah polah mereka mengguratkan rasa perih, selalu ada sykur terucap.

“Ya Allah, saya ridho bila anak saya masih sering terlambat datang ke masjid.  Namun, ijinkanlah esok mereka menjadi pengisi shaf terdepan.”

“Ya Allah, saya ridho jika kini mereka masih menghabiskan waktu untuk bermain.  Namun, ijinkanlah esok mereka mengisi waktunya untuk mengingat nama-Mu.”

Rasa syukur tersebut, mengajari saya untuk selalu rileks dan optimis membersamai anak-anak karena saya yakin ada Sang Kuasa yang Maha penolong, tempat bersandar.  Benar kiranya, Raise your Child. Raise YourSelf.

Surabaya, 17 Ramadhan 1438 H

#level1

#day10

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Cinta Pertama Sang Putri

Hadirnya bayi perempuan nan mungil seperti embun di pagi hari seolah memberi kesejukan dan kelembutan setelah gelap menghilang.  Bagi ayah, gadis kecilnya merupakan bidadari yang harus disayang, dicintai dan dijaga sepanjang hari.  Bidadari kecil yang selalu dicari sepulang ayah kerja.  Putri kecil itupun, berlari menyongsong Ayah, menghambur dalam pelukannya.  Kerlip mata sang putri dan semua celotehnya bisa menjadi penghalau penat dan lelah setelah seharian bekerja.

Sementara, si gadis mungil mengangap ayahnya adalah pahlawannya.   Ayah menjadi pria pertama yang dikenal anak perempuan.  Tentu saja laki-laki paling jagoan dan bisa diandalkan serta selalu ada untuk anak perempuan adalah Ayah. Sosok tegar yang menghantarkan kehangatan cinta.  Lengan kuatnya merupakan tempat yang paling nyaman untuk menyandarkan segala harapan.  Suara ayah yang serak dan keras terdengar penuh wibawa melayangkan aneka petuah penuh makna.

Akhir pekan bagi keluarga kecil kami, selalu dinanti ananda karena kehadiran Ayah sepanjang hari.  Mereka melakukan aktivitas bersama ayah untuk menghalau rindu yang tiada pernah bertepi.  Putri kecilku selalu menunjukkan wajah ceria bermanja di pangkuan ayah.  Dia akan memohon dan merayu sang ayah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.  Bermain bola, bersepeda keliling komplek, bercerita atau bermain ayunan di taman.  Ah… tak ada yang tak menyenangkan bersama ayah, ujarnya suatu hari.

collage-2017-06-12.jpg

Tak dapat dipungkiri peran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang putri tercinta.  Keterlibatan ayah dalam pengasuhan putrinya dan cinta serta kasih sayang yang ditunjukkan ayah dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, menumbuhkan keberanian dan kemandirian sang putri. Cara Ayah menyayangi dan mendidik putrinya memang berbeda dengan Ibu.  Ayah lebih protektif terhadap anak perempuan.  Bahkan, ada cemburu yang menyelinap kala putrinya beranjak dewasa dan siap memperkenalkan pilihan hatinya.

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu (Lagu D’Masive)

Yah, kehadiran ayah memang ajaib seperti sumber mata air di tanah tandus.  Bagi saya, hari libur dengan kehadiran ayah full di rumah seakan memberi kesempatan bagi saya untuk rehat sejenak membersamai anak.  Sesaat, saya bisa mengurai kusutnya komunikasi yang kadang mengalir searah dengan anak-anak. Saya bisa mengisi pundi-pundi sabar sebagai stok untuk menghadapi hari esok yang penuh hiruk pikuk.

Surabaya, 16 Ramadan 1438

#level1

#day9

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Belajar Sabar dari Lelaki Bertopi Kuning

curious george.jpg

Pagi tadi saya menemani Raisa nonton kartun kesukaanya “Curious George” kisah seekor monyet kecil yang penuh dengan rasa ingin tahu. George selalu terlibat masalah akibat rasa penasarannya namun dengan intuisi monyet dia selalu dapat menyelesaikan masalahnya.

Kali ini George membuat dapur berantakan karena ingin membuat jus buah denga rasa yang istimewa.  Uniknya George membuat catatan untuk resep barunya lengkap dengan jenis buah yang digunakan  dan jumlahnya.  Sampai akhirnya George benar-benar menemukan jus buah yang rasanya istimewa.  Perpaduan berbagai jenis buah dengan menambah sedikit buah lobak maka terciptalah jus dengan rasa yang eksotik.  Tentu saja George merayakannya bersama lelaki bertopi kuning.

Ada beberapa catatan penting saat saya nonton kartun yang satu ini.  Menurut saya lelaki bertopi kuning adalah laki-laki yang paling sabar.  Betapa tidak, dia tidak pernah marah atau menghardik George yang notabene seekor monyet.  Ya… monyet yang selalu membuat apartemennya berantakan dan kotor. (He…he… gak kebayang kalau saya sih sudah pasti uring-uringan.)  Lelaki bertopi kuning sangat manusiawi memperlakukan George. Tampaknya saya harus belajar tentang kesabaran dengan lelaki bertopi kuning.

Satu hal lagi yang menjadi perhatian saya, yaitu cara lelaki bertopi kuning berkomunikasi dengan George.  Walau keduanya memiliki bahasa yang berbeda namun, lelaki bertopi kuning selalu berusaha untuk mengerti dan memahami apa yang diinginkan George.  Lelaki bertopi kuning pun mampu menjadi pendengar yang baik tidak terburu-buru menilai segala sesuatu yang dikerjakan George.  Lelaki itu, sangat menghargai proses belajar George tidak peduli seberapa berantakan rumahnya akibat ulah George.

Sangat berbeda dengan saya, seorang ibu yang selalu terburu-buru dan mudah panik serta cepat naik darah.  Saya sadar perlu effort maksimal agar bisa berubah.  Tidak mudah memang, tetapi saya yakin ada Allah tempat saya memohon pertolongan.  Bukankah Allah Allah SWT telah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Banyak hikmah yang saya peroleh dari tontonan kartun kesenangan putri saya.  Mungkin inilah cara Allah mengajari saya dengan memberi hikmah dari sebuah tontonan sederhana yang kaya makna.

Sementara, George seperti halnya anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, senang bereksplorasi, dan bereksperimen.     Namun, George beruntung karena memiliki ruang yang cukup  untuk melakukan banyak hal yang bisa menjawab rasa penasaran.  Tidak semua anak bisa bereksplorasi dan melakukan eksperimen untuk memuaskan rasa ingin tahunya.  Bisa jadi karena lingkungan yang tidak mendukung dan peran orang tua yang kurang memberi kebebasan kepada anak-anaknya.

Semoga saja saya mampu sabar dan penuh apresiasi seperti lelaki bertopi kuning sehingga anak-anak saya mampu menjawab semua rasa ingin tahunya dengan bereksplorasi dan bereksperimen.  Anak-anak tumbuh menjadi sosok yang mandiri, ceria dan kreatif serta bertanggung jawab.  Ya… semoga.

Surabaya, 15 Ramadan 1438

#level1

#day8

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Sumber gambar: Google

Tunjukkan Nama Bintang Padaku, Bun

solar-system-566537_640.jpg

Purnama nyaris penuh menerangi angkasa tatkala kami berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Isya dan tarawih berjamaah.  “Bulannya besar ya, Bun” ujar Raisa.  “Ya, besok lebih besar lagi,” sahut saya.  “Lihat ada banyak bintag, Bun.  Yang paling terang itu namanya bintang apa?”  Saya mendongak melihat bintang yang ditunjuk tangan mungil Raisa.  Belum juga, saya berhasil menemukan jawabannya, Raisa sudah mulai menunjuk bintang yang ada di langit utara “Itu kelihatan besar, namanya bintang apa? Eh..eh Bun, kok bulannya ngikutin kita, ya? Kenapa sih ada bulan purnama tapi ada juga bulan sabit?” Raisa terus bereloteh menanyakan segala hal tentang bulan dan bintang.

Terang saja, emaknya ini yang kurang pengetahuan tentang benda-benda langit hanya diam seribu bahasa.  Andai saja Raisa bertanya tentang bakteri, sel dan virus Insya Allah saya bisa menjelaskan sejelas-jelasnya.  Lha ini yang ditanyakan tentang nama bintang.  Emak bingung, harus jawab apa.  Satu-satunya nama bintang yang saya ketahui Cuma “Sun” alias matahari.

“Setelah sholat, nanti kita cari tahu ya, nama-nama bintang yang menghiasi langit,” ucap saya diplomatis.  Bukan karena tak ingin kehilangan muka di depan Raisa namun, saya tak ingin rasa penasaran Raisa redup apalagi sampai membunuh keinginantahuannya.

Meskipun beberapa kali Raisa tampak menguap dan matanya pun sudah redup tanda mengantuk.  Gadis kecil itu tetap semangat ingin mengetahui nama-nama benda ruang angkasa.  “Ayo, Bun tunjukkan nama-nama bintang yang di langit,” desaknya diliputi rasa ingin tahu.  Repotnya di rumah tidak ada buku tentang astronomi.  Akhirnya, saya membangunkan laptop yang sejak sore sudah tidur, menyalakan wifi dan meluncur ke situs You tube.  Banyak sekali video tentang benda-benda langit yang dikemas dengan apik.

Kami melihat video tentang Solar Syistem, menyaksikan planet-planet yang sedang mengitari matahari.  “Itu Bumi yang warnanya biru, kalo yang ada cincinnya Saturnus dan itu Mars, planet merah,” jelas Raisa antusias.  “Siapa yang menciptakan planet, dik?” Tanya saya tiba-tiba.  Raisa menoleh dan menatap saya, “Ya Allah lah, Bun,” jawabnya mantap.  “Allah keren ya, bisa menciptakan planet bermacam-macam,” sahut saya.  “Iya Allah hebat,” lirih Raisa menyahut.  Mata Raisa berbinar penuh pesona.  Sesekali dia berdecak kagum sembari mengucapkan “Masya Allah.”

Berlanjut ke video berikutnya, kami menyaksikan bintang-bintang yang melayang di semesta.  Satu persatu ditunjukkan nama bintang dari yang paling kecil hingga bintang terbesar.  Matahari, Sirius, Pollux, Arturus, Aldebaran, Antares dan masih banyak bintang lainnya.  “Wow… lihat, Bun semuanya tampak indah dan terang.  Allah benar-benar hebat,” seru Raisa.  Diam-diam saya pun menikmati video tentang antariksa, sungguh besar kekuasaan Allah.  “Raisa mau jadi astronot?” Tanya saya memancing saat ada diperlihatkan seorang astronot yang melayang-layang di ruang hampa tersebut.  Raisa menggeleng kuat, “Enggak, aku mau jadi pilot,” jawabnya singkat.  “Kenapa?” cecar saya.  “Karena aku mau antar Ayah dan Bunda kemanapun pergi.  Ke Mekkah juga boleh.” Kata-kata Raisa diucapkan datar sambil tersenyum manis.  Namun, jauh di relung hati saya ada rasa syukur yang membuncah.  Terus… terus lah belajar, Nak dan terus kenali ciptaan Allah.  Sesaat kemudian, Raisa sudah terlelap mungkin dia sedang bermimpi tentang bulan dan bintang.  Namun, ketahuilah Nak, engkaulah bintang buat Ayah dan Bunda.

Surabaya, 13 Ramadan 1438 H

#level1

#day7

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Komunikasi Lancar Kala Hati Tenang

Purnama nyaris penuh menerangi angkasa tatkala kami berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Isya dan tarawih berjamaah.  Namun, semua berubah dengan cepat.  Awan gelap menggantung di langit menghalau cahaya rembulan.  Tepat tengah malam hujan deras pun mengguyur kota Pahlawan.  Hujan yang penuh Rahmat seolah ingin menebarkan kesejukkan setelah Surabaya diterpa panas yang menyengat selama beberapa hari.

Selepas sholat shubuh Fikri (13 th) dan Raisa (5 th) kembali ke peraduan.  “Wah… shalih, shalihah kok tidur lagi,” ucap saya.  “Ngantuk, Bun.  Dingin banget,” sahut Raisa.  “Memang sih dingin.  Tapi sekarang kan waktunya tilawah dan murojaah,” ujar saya.  “Ayolah, pejuang shubuh tak boleh kalah sama dingin,” sambung saya penuh semangat.   “Aku ngajinya habis sholat Dhuha aja, Bun.” Kali ini Fikri yang menyahut.  “Aku juga murojaahnya abis dhuha,” Raisa menimpali kompak banget dengan kakaknya.  Ada kecewa yang menggeliat di hati.  Kenapa mereka jadi malas begini, pikir saya.  Sesaat, saya ingin mereka segera menuntaskan kewajibannya namun saya segera sadar bahwa mereka tetaplah anak-anak yang sekali-kali ingin dispensasi.  Well ok, tak apalah jika kali ini mereka meringkuk memeluk guling lagi.  Saya harus tetap rileks dan optimis agar emosi tak meninggi.

Aroma tanah yang basah masih menyeruak saat saya membuka pintu rumah.  Angin dingin berhembus perlahan membuat tubuh ini menggigil.  Sudut ekor mata saya tertuju ke arah rerumputan liar di halaman depan rumah yang mulai tumbuh subur.  “Harus segera dibersihkan” bisik batin saya.  Maka, saya mengambil arit, sapu lidi dan serok sampah siap berjibaku dengan sang rumput.  “Bunda mau ngapain?” Tanya Raisa yang baru bangun tidur.  “Mau bersihin rumput di depan rumah,” saya menjawab singkat.  “Ikut dong!” seru Raisa.  Tak seberapa lama, gadis kecil itu sudah berada di samping saya yang sedang mencabut rumput.

“Bun, kok rumputnya dicabutin, sih?” Raisa tampak penasaran.  Dahinya berkerut seakan berpikir keras.

“Biar bersih, dong.  Kalau rumahnya ditumbuhin rumput kelihatannya kotor dan tak terawatt,” jelas saya dengan nada rendah agar Raisa tidak merasa digurui.  “Ehm, siapa sih yang menciptakan rumput?” Tanya saya santai.

“Ya Allah lah.  Masak gitu aja Tanya.  Bunda ini aneh,” sahut Raisa.  Dalam hati, saya berkata, Anak sekarang yah pinter banget ngomong.  “Terus, kenapa Allah menciptakan rumput?”  Bocah mungil itu diam sesaat, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.  “Aku tahu!” serunya mengangetkan saya.  “Allah menciptakan rumput untuk makanan sapi, kambing, rusa dan kelinci,” celotehnya riang.  Saya tersenyum lebar.  “Kalau Allah enggak menciptakan rumput, sapinya enggak makan ntar kurus dong terus enggak ada susunya.  Terus aku enggak bisa minum susu.” Raisa cemberut mungkin dia sedang membayangkan tidak ada stok susu yang bisa diminumnya.  Maklumlah, gadis kecil itu suka banget minum susu.

Bersih-bersih rumput hampir kelar tinggal sedikit lagi rumput liar yang tumbuh dipojokan.  Tiba-tiba Raisa merayu hendak meminjam arit yang sedari tadi saya pakai untuk mengorek akar rumput.  Saya tidak membolehkannya, karena aritnya sangat tajam, bahaya untuk Raisa yang masih balita.  Tetapi Raisa tetap bersikukuh ingin memakai arit tersebut.  “Raisa bagian nyapu aja, ya” rayu saya dengan intonasi suara ramah.  Gadis mungil itu menggeleng dan memonyongkan bibir, “Enggak mau. Aku mau coba bersihin rumput pakai arit,” desaknya dengan suara keras.  “Eh… aritnya tajam.  Bahaya untuk Raisa,” kilah saya memulai negosiasi sambil terus meredam emosi.  “Sebentar aja, Aku cuma mau coba kok, Bunda.”  Melihat keinginannya yang begitu kuat, setengah hati saya merelakan arit berpindah tangan.  Saya terus mengawasi Raisa yang berusaha mencongkel rumput dengan arit.  Tangan kecilnya mengayunkan arit perlahan dan “Akh… aduh,” jerit Raisa sembari melepaskan arit dari genggamannya.  “Kenapa?” sergah saya panik.  Mata Raisa mulai berair, tangan kanannya nampak memerah lebam.  Ternyata ibu jari tangan kanannya terbentur batu saat berusaha mencongkel rumput tadi.  Syukurlah bukan terkena arit.

Saat panik begini, saya akan menarik napas dalam-dalam.  Diam sejenak agar tidak meluncur kata-kata yang tidak layak didengar anak-anak.  Setelah mencuci tangan Raisa, saya mengelus-elus ibu jarinya yang sakit sambil berkata “Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah hilangkanlah rasa sakit di jari Raisa dan sembuhkanlah seperti semula.”  Itulah mantra yang selalu saya pakai jika ada bagian tubuh Raisa atau fikri yang sakit.  Yah, seperti belaian ajaib, memang ampuh setelah dibelai sebentar saja Raisa berhenti menangis dan kembali beraktivitas.

Pernah suatu ketika, jari saya terluka karena teriris pisau yang lumayan tajam dan darah menetes dilantai.  Putri mungil itu langsung saja membelai telunjuk kiri saya dan berucap persis seperti yang biasa saya katakan.  “Nah, sudah sembuh kan Bun, jarinya gak sakit lagi ya,”  ucapnya sembari tersenyum.  Tapi memang benar ajaib, rasa perih dan nyeri di jari saya seakan lenyap setelah dibelai Raisa.  Mungkin itu pula yang dia rasakan saat saya membelai bagian tubuhnya yang sakit.

Menurut para pakar belaian dan pelukan memiliki banyak manfaat.  Sentuhan atau belaian akan memberikan ketenangan dan kenyamanan.  Saat dibelai atau dipeluk tubuh akan mengeluarkan hormon endomorfin.  Hormon ini berperan mengurangi ketegangan saraf dan tekanan darah sehingga anak akan merasa nyaman dan tenang, dengan demikian rasa sakit juga akan hilang.  Selain itu, hormon ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Anak yang sering dipeluk dan dibelai akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.  Mereka juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat karena merasa disayang, diterima, dan dihargai.  Pelukan dan belaian juga ditengarai dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Inilah cerita saya di tantangan hari keenam.  Sejak bangun tidur saya sudah berkomitmen tidak marah selama membersamai anak.  Dan Alhamdulillah berhasil, justru saya merasa komunikasi diantara kami sangat baik jika emosi tidak naik.  Selain, komunikasi verbal anak-anak juga sangat butuh komunikasi (sentuhan) fisik seperti belaian dan pelukan agar menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Surabaya, 12 Ramadhan 1438

#level1

#day6

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Jurnal Syukur dan Sabar

 

Ide tentang jurnal syukur dan sabar, saya peroleh ketika ngobrol santai bersama Mba Farda kala acara bedah buku Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom.  Alasan penting untuk membuat jurnal ini agar kita selalu berada dalam kondisi bersyukur dan pantang mengeluh.  Apapun yang terjadi pada diri kita sesungguhnya merupakan rancangan dari Allah agar kita bisa naik kelas ke level yang lebih tinggi.  Sebaiknya jurnal syukur dan sabar dibuat saat malam hari menjelang tidur.  Menata lagi kepingan puzzle kejadian yang terjadi sehari penuh, lalu mensyukuri serta mengevaluasinya akan membuat tidur kita lelap.  Rasanya dada ini buncah oleh rasa syukur atas semua nikmat Ilahi yang tak pernah berhenti.  Maka keesokan harinya, ketika kita bangun akan menyunggingkan senyum penuh kebahagian dan siap menghadapi rutinitas harian.

Setelah konsisten membuat jurnal syukur dan sabar, saya merasa lebih rileks dan optimis menghadapi segala tantangan mendidik putra-putri saya.  Yah… jurnal ini pun membantu saya untuk mampu mengendalikan emosi.  Memang tidak mudah menghadapi segala tingkah laku anak-anak namun, doa dan segala ikhtiar patut diperjuangkan.  Gambar dibawah ini, hanyalah secuplik contoh jurnal syukur dan sabar yang pernah saya buat.

jurnal syukur

Saya akan senantiasa membasahi lisan ini dengan doa berharap Allah memberi kemudahan dan turut campur dalam proses pendidikan putra-putri saya.

Doa bunda teruntuk putra-putri

Jika hari ini, engkau telat ke masjid.  Semoga esok engkau selalu berada di shaf terdepan.

Jika hari ini engkau masih berebut makanan dengan adikmu, semoga esok engkau selalu berbagi dengan dhuafa dan para fakir miskin.

Jika hari ini engkau selalu bertengkar dengan saudaramu, semoga esok engkau menjadi pelindung mereka.

Jika hari ini engkau menghabiskan waktumu untuk bermain, semoga esok engkau mengisi waktumu untuk beribadah….

Dan, jika hari ini bunda selalu cerewet doakan bunda semoga esok bunda lebih sabar menghadapi polah tingkah kalian.

Hari ini dan esok bunda selalu dan akan terus berdoa untukmu- anakku.

Surabaya, 11 Ramadhan 1438

#level1

#day5

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip