Blog

Aliran Rasa Mengamati Gaya Beajar Anak

aliran rasa game 4.jpg

Saat berbincang tentang gaya belajar dengan seorang rekan, ternyata banyak sekali info menarik yang diperoleh.  Yah, gaya belajar juga berhubungan dengan aktivitas me time seseorang.  Misalnya, orang dengan gaya belajar auditori bias jadi akan memilih mendengarkan musik sebagai aktivitas me time.  . Karakter model belajar auditori seolah benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, mereka harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi itu.  Maka tak heran bila si auditori lebih memilih mendengarkan musik untuk melakukan relaksasi dan mengusir kejenuhan.

Sementara, orang dengan model belajar visual cenderung memilih membaca buku atau menonton film sebagai pilihan aktivitas me time.  Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Lantas bagaimana dengan orang yang memiliki gaya belajar kinestetik?  Traveling atau melakukan olah raga dapat menjadi pilihan mereka sebagai aktivitas me time.  Karakter utama bagi model belajar kinestetik yaitu menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Bagi saya tantangan game level 4 ini sangat menarik.  Saya harus membuka diri, mengamati dan membuat kesimpulan tentang gaya belajar diri sendiri dan anak.  Mengapa mengetahui gaya belajar anak jadi penting?  Well… info tentang gaya belajar anak akan sangat membantu menentukan jenis kegiatan yang akan kita lakukan bersama anak.  Anak auditori pastinya leih senang melakukan kegitan mendengarkan lagu.  Sedangkan anak kinestetik lebih senang belajar di luar rumah dan bergerak.  Melakukan kegiatan bersama anak sesuai gaya belajarnya akan meningkatkan rasa ingin tahu mereka tentang sesuatu.

Hasil pengamatan sementara, setidaknya saya telah mendapat informasi bahwa si sulung cenderung auditori kinestetik.  Dia senang mendengar dan malas membaca teks.  Terkadang keributan kecil seringkali terjadi karena dia lebih sering meminta saya membacakan buku pelajarannya ketimbang membaca sendiri.  Dulu saya mengganggapnya kurang rajin membaca tetapi kini saya tahu kalau si sulung lebih nyaman belajar dengan mendengarkan sambil memainkan bola di tangannya.

Adik bungsu lebih kea rah visual auditori (he..he.. saya belum tahu pasti mana yang lebih dominan).  Hapalan surat-surat Alquran juz 30 si bungsu berkembang pesat hanya dengan mendengarkan murotal setiap hari.  Dia juga sangat menyukai gambar dengan aneka warna.  Pernah suatu kali saya bertanya, mana yang lebih menyenangkan baginya mendengarkan cerita atau menggambar?  Jawabannya agak mengejutkan ternyata gadis kecilk saya sangat suka menggambar.  Kemampuan visual juga sangat baik, dia memiliki ingatan tajam tentang gambar-gambar baleho yang dilihatnya sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah.

Okeh, setelah tahu tentang gaya belajar kedua buah hati, tentus saya yang sangat visual ini tidak akan memaksakan kehendak untuk mengajari mereka dengan gaya belajar saya.  Kami bisa saja merancang kegiatan yang mampu menyenangkan bagi semua anggota keluarga sesuai dengan gaya belajar masing-masing.  Akhirnya, saya akan selalu berterima kasih dan bersyukur kepada ilahi karena bisa duduk dan belajar di kelas Bunda Sayang.  Terima kasih kepada tim fasilitator yang dengan telaten memberikan stimulasi kepada kami untuk mencapai target belajar.  Terima kasih kepada semua teman-teman yang selalu mendukung dan memberi semangat.

Advertisements

Mengamati Gaya Belajar Anak day 10

Melihat anak-anak bermain dengan riang, sesungguhnya menjadi kebahagian tersendiri bagi saya.  Yah, begitulah dunia anak mereka pasti suka bermain bahkan mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain.  Sebenarnya saat anak-anak bermain, mereka sedang mempelajari sesuatu walau kadangkala kita orang dewasa tidak tahu apa yang sedang mereka pelajari.

Raisa putri bungsuku, paling senang main pura-pura atau bermain peran.  Hari ini dia menjadi chef, esok hari bisa jadi seorang dokter.  Tentu saja saya sebagai ibunya dan satu-satunya teman selalu jadi partnernya bermain.  Lucunya, dia selalu meniru gaya ibunya.  Semua tingkah laku saya di copy paste dengan apik oleh Raisa.  He…he.. saya jadi malu dan juga menjadi reminder agar senantiasa memperbaiki prilaku.  Karena apapu yang kita kerjakan dilihat dan ditiru oleh anak.

Bagi anak dengan gaya belajar visual memang meng-copy paste tingkah laku figur terdekat jadi cara belajar yang paling nyaman.  Mereka mampu menyerap banyak informasi baru dari kejadian-kejadian yang dilihatnya.  Mereka juga sangat menyenangi symbol dan gambar.  Namun, sejauh ini saya belum dapat menyimpulkan apa gaya belajar Raisa yang paling dominan.  Karena umumnya anak-anak merupakan peniru ulung.

Sebagai orang tua saya akan berusaha untuk memfasilitasi dan mengamati semua proses perkembangan anak-anak.  Apapun permainan yang anak-anak lakukan, sesungguhnya mereka sedang belajar dan menerima stimulasi untuk perkembangan otak mereka.   Ada banyak manfaat saat anak bermain peran, antara lain:

  • Meningkatkan kreatifitas,  Bermain dapat menstimulasi imajinasi anak dan memberi kesempatan mencoba mengaplikasikan ide-ide yang ada di kepala mereka tanpa rasa takut melakukan kesalahan.  Anak-anak yang memiliki imajinasi tinggi akan tumbuh menjadi anak yang kreatif.
  • Meningkatkan perkembangan bahasa.  Saat bermain, pasti ada komunikasi dengan teman atau orang lain yang turut andil dalam permainan.  Kosakata anak akan bertambah bahkan melejit pesat dan kemampuannya berkomunikasi akan terasah, seperti intonasi suara saat bicara yang menggambarkan perasaannya.
  • Meningkatkan perkembangan kognitif.  Anak-anak bisa mengenal bentuk, warna, dan angka saat mereka bermain.  Contoh kecil saat Raisa main jual-jualan “Bu, saya beli tomat yang warnanya merah 2 kg”
  • Belajar bersosialisasi.  Pasti lebih menyenangkan bermain dengan banyak teman daripada bermain sendiri.  Kondisi ini akan mengajari anak untuk belajar bersosialisasi dengan teman sebaya, selain itu mereka juga akan belajar problem solving.
  • Meningkatkan perkembangan moral dan agama.  Banyak hal yang bisa diperoleh saat anak bermain, rasa percaya diri anak-anak akan tumbuh dengan baik, jujur, berani mengakui kekalahan dari lawan merupakan contoh perkembangan moral yang dapat berkembang saat anak bermain.  Pendidikan agama juga bisa kita selipkan saat bermain dengan anak.  Yach saat bermain dokter-dokteran dengan Raisa, saya selalu menekankan bahwa Allah yang menyembuhkan suatu penyakit, dokter hanya membantu mendiagnosa suatu penyakit dan menunjukkan obat yang harus digunakan untuk terapi penyakit.  Atau saat bermain masak-masakan saya mengenalkan jenis makanan yang halal dan haram.
  • Meningkatkan perkembangan emosi.  Saat bermain, sejatinya anak-anak belajar untuk mengendalikan diri, sabar, dan berempati dengan temannya.
  • Menghilangkan stress.  Perasan senang kala bermain akan membuat anak merasa rileks sehingga bermain mampu menghilangkan rasa stress.

Ternyata banyak sekali manfaat bermain ya bun,  Nach ayo ajak dan dampingi anak saat bermain.  Biarkan mereka mengeksplorasi lingkungannya dan berimajinasi sebebas-bebasnya agar tumbuh menjadi anak kreatif dan cerdas.  Selain itu, lewat kegiatan bermain kita bias mengamati gaya belajar yang dominan pada anak-anak.

Mengamati Gaya Belajar Anak Day 9

Yeay…Hari ini seru-seruan di dapur sama Raisa.  Kita mau masak bareng.  Ehm…enaknya kita bikin apa, ya Bun?  Berhubung Surabaya lagi panas-panasnya, gimana kalau bikin salad buah aja, setuju! Yes, salad buah memang kudapan paling enak disantap selagi dingin jadi bisa mendinginkan tubuh saat kondisi cuaca panas.  Selain itu, salad juga bergizi karena terbuat dari buah-buahan.

Kebetulan bahan-bahan ada di kulkas semua, semangka, melon, kiwi dan apel.  Lengkap sudah.  Tugas Raisa mencuci buah-buahan sebelum dikupas dan dipotong-potong.  Saat mencuci buah, Raisa selalu bertanya kenapa harus dicuci dulu kan buahnya mau dikupas? Cara mencucinya gimana? Dia minta diberi contoh dulu baru action.  Ini adalah ciri khas anak dengan gaya belajar visual.

Ciri khas anak dengan gaya belajar visual yaitu melihat orang lain mengerjakan dulu kemudian meniru dan memodifikasi untuk menyelesaikan pekerjaan.  Sekalipun sudah diberi instruksi detil untuk mengerjakan sesuatu namun mereka masih kesulitan mencoba.  Setelah diberi contoh cara mengerjakan barulah paham kemudian meniru.

Alhamdulillah, buahnya sudah selesai dipotong kecil-kecil kini saatnya menambahkan mayonaise dan mengaduknya hingga rata. Raisa semangat sekali mencampur semua bahan.  Setelah tercampur rata tinggal diberi toping parutan keju dan potongan kiwi.  Taraaa inilah salad buah buatan Raisa dan Bunda.

#day9

#gayabelajaranak

#kelasbunsay

#iip

Mengamati Gaya Belajar Anak Day 8

Memasuki hari ke-8, saya belum juga menemukan gaya belajar Raisa.  Mengamati dan memberikan stimulasi untuk mengembangkan panca inderanya yang dapat saya lakukan sejauh ini.  Apa yang dilakukan Raisa sehari-hari kadang membuat saya tercengang.  Balok puzzle sesekali dipakai untuk membuat rumah-rumahan namun, terkadang balok itu bisa berubah fungsi menjadi bahan masak-masakan.  Yach sesuai dengan imajinasinya.

Entahlah, Raisa selalu punya ide untuk mengisi harinya.  Seharian bisa dihabiskan untuk menggambar.  Esoknya dia lebih senang bersepeda.  Hari berikutnya dia berkutat dengan keping-keping puzzle.  Namun, dia pun senang mendengar lagu anak-anak.  Eh tepatnya video lagu anak dari YouTube.

Lantaran penasaran, saya pun melakukan percobaan kecil untuk mengetahui gaya belajar Raisa.  Saya sengaja menyetel CD lagu anak-anak tanpa gambar.  Sambil main bonekanya Raisa mendengar lagu-lagu anak tersebut.  Selang beberapa hari saya tanya lagu apa yang diingatnya.  Ternyata hanya beberapa bait lagu saja yang terekam di memorinya.  Percobaan diteruskan.  Kali ini saya menanyakan video dan lagu anak-anak.  Respon Raisa langsung menirukan lagu tersebut plus gaya penyanyinya. Well, gaya belajar visual mungkin lebih dominan untuk Raisa.

Mengamati Gaya Belajar Anak Day 7

Hari Minggu ini seperti hari ayah.  Raisa seharian menghabiskan waktu bersama ayahnya. Kayaknya Raisa kangen banget sama ayah setelah dua hari ditinggal tugas keluar kota.  Pagi hari setelah salat subuh, ayah dan Raisa bersepeda keliling komplek perumahan.  Tak ada tanda-tanda lelah, Raisa merayu ayah berenang.  

Segala jurus Raisa lancarkan untuk mengajak ayah bermain air di kolam renang.  Intonasi dan mimik wajah memelas untuk melumerkan hati sang ayah.  Saya yang mendengarnya hanya tersenyum saja.

“Ayah kita kan sudah lama enggak berenang?” Rayuan pertama.  “Kalau pas musim panas gini, enak lho, yah berenang.” Rayuan kedua.  “Ayah, pasti aku seneng banget kalau berenang bareng ayah.”

Mungkin karena enggak tahan mendengar rayuan sang putri, ayah menyerah juga walau badan remuk karena lelah.  Lebih mengejutkan lagi bunda enggak boleh ikut.  Hanya ada ayah dan Raisa saja.  Yeay…Bunda bisa me time, nih :).


Sepulang renang, Raisa menceritakan pengalamannya berenang bersama ayah.  Gaya berkisahnya persis seperti kak Andy mendongeng, runut dan detil diikuti gerak tubuh yang pas.  Saya bisa melihat jelas Raisa sangat bahagia.  Yach bila mengamati cara Raisa bicara dan bercerita, ada bakat yang menonjol yang terlihat pada dirinya yaitu komunikator.  Kemampuan bahasanya sangat baik, dia bisa memilih kata yang tepat untuk menyampaikan pemikirannya.  Yach…Setiap anak memang unik.  Sama halnya dengan anak seusianya, Raisa sedang memenuhi rasa ingin tahunya dan ingin diakui.

#day7

#mengamatigayabelajar

#kelasbunsay

#iip

Mengamati Gaya Belajar Anak Day 6

Entah ada angin apa tiba-tiba Raisa bertanya.  “Bun, herbivora itu apa sih?”. Weh…Bocah kecil ini kok dapat kata herbivora dari mana, pikir saya.  Maka jadilah pertanyaan dibalas pertanyaan.  “Adik tahu herbivora dari mana?”tanya saya penasaran.  “Dari tv,” jawabnya polos.  “Tadi pas nonton si bolang, ada gurunya yang ngajarin herbivora.”. Lucunya lagi Raisa menirukan gaya pak gurunya si bolang mengajar.  Ada gambar kambing dan sapi di papan tulis.

Akhirnya saya menjelaskan tentang herbivora yaitu hewan yang memakan tumbuhan.  Misalnya kelinci, kambing dan sapi.  Setelah mendengar penjelasan saya, Raisa berlari ke kamar mengambil boneka kelinci kesayangannya.  Boneka yang dinamai Ruby itu pun langsung menjadi teman bercerita.  “Hei… Ruby, kamu itu herbivora,” celotehnya.  

Raisa terus saja berbincang dengan bonekanya penuh ekspresi dengan mimik dan intonasi yang berbeda seolah mereka hidup.  Mendengar cerita Raisa yang detil persis yang dilihat dan didengarnya membuat saya merasa bahwa dia memang memiliki gaya belajar kombinasi auditori dan visual.  Namun, saya belum yakin mana yang lebih dominan.

Mengingat usia Raisa yang masih balita, saya hanya terus memberinya stimulasi agar semua panca inderanya berkembang baik.  Demikian pula dengan motorik kasar dan halus sehingga kelak Raisa tidak mengalami kesulitan belajar apapun gaya belajarnya.

#day6

#mengamatigayabelajar

#kelasbunsay

#iip

Mengamati Gaya Belajar Anak Day 5

Semburat jingga menghiasi langit di bagian barat, angin berhembus lembut membelai wajah.  Sore yang sejuk kala Raisa bermain di teras berteman busy book.  Buku yang terbuat dari kain flanel dengan beragam aktivitas memang menjadi favorit Raisa untuk menghabiskan waktu.  

Tangan mungil Raisa terus bergerak membuka atau menutup resleting.  Menempel berbagai objek di buku, berhitung, membuka kancing atau mencocokkan warna.  Ya, busy book memang sangat lengkap jenis aktivitasnya.  Kegiatan yang dirancang untuk menstimulasi motorik halus dan sensorik anak.  Serta melatih koordinasi mata dan tangan juga konsentrasi.  Sesekali saya mendengar celotehannya seolah ingin menceritakan isi bukunya.

Sepanjang pengamatan saya Raisa memang cenderung suka gambar yang penuh warna.  Visualisasi pada objek lebih tersimpan lama di memorinya.

#gayabelajaranak

#day5

#kelasbunsay

#iip