Blog

Semangat Loli

watercolour-2168655_640

Oleh Anittaqwa Elamien

Bagi Loli, dua minggu terakhir merupakan hari-hari yang membosankan dan menyedihkan. Yah … sudah dua minggu Loli tidak masuk sekolah karena sakit. Teman-teman sekolahnya bergantian menjenguk Loli. Tetapi, mereka tak boleh mendekati Loli, khawatir tertular penyakit Loli yang memang sangat menular. Duh … Loli sedih sekali sampai-sampai dia ingin menangis setiap hari. Beruntung, ibu selalu menghibur dan membacakan buku cerita untuk Loli.

Ada kabar dari dokter, Loli sudah dinyatakan sembuh dan boleh masuk sekolah kembali. Alangkah gembiranya hati Loli. Esok harinya, Loli pun berangkat ke sekolah dengan wajah berbinar-binar bahagia. Badannya sudah segar serta siap menerima pelajaran dari guru-gurunya. Namun, saat pelajaran matematika, Loli sangat muram. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana mengerjakan soal-soal yang diberikan bu guru.

“Ya ampun, mengapa soal ini sulit sekali,” keluh Loli. Bu guru yang mendengar keluhan Loli mendekat dan berkata, “Mungkin kamu ketinggalan banyak pelajaran saat sakit, Loli.” Mendengar perkataan bu guru Loli semakin sedih. Dia merasa menjadi murid paling bodoh di kelas lantaran lama tidak masuk sekolah dan tertinggal banyak pelajaran. Sebelum sakit pun, Loli merasa bukan murid yang pandai tapi kini Loli benar-benar merasa kepayahan mengikuti pelajaran.

“Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, apa aku bisa naik kelas, Bu?” tanya Loli.

“Jangan putus asa, Loli. Asalkan kamu mau giat belajar, kamu pasti bisa menggejar ketinggalanmu,” nasihat Bu Kancil memberi semangat Loli. Loli mengangguk walau hatinya tidak yakin dengan kata-kata Bu Kancil.

Sepulang sekolah, Loli mulai belajar matematika di rumah setelah makan siang. Mula-mula, Loli membuka buku pelajaran dan mulai membacanya. Namun, angka-angka di buku itu seperti terbang dan menari. Mata Loli menjadi lelah.

“Ukh … kenapa sulit sekali,” dengus Loli kesal. “Buat apa aku belajar, pasti aku tidak akan naik kelas,” kata Loli kesal, dia benar-benar merasa putus asa. Semangat Loli mengendur, dia merasa tidak ada gunanya belajar karena Loli tidak mengerti semua yang dibaca dan banyak sekali yang harus dipelajarinya.

“Loli, belajar pelan-pelan saja,” ujar ibu ketika melihat Loli kesulitan belajar.

Loli mencoba untuk belajar lagi seperti nasihat ibu. Baru lima belas menit berlalu, Loli merasa capek dan ingin berhenti belajar. Namun, bayangan tidak naik kelas membuat Loli ngeri sehingga dia berusaha untuk mengerjakan soal matematika lagi. Bukannya menyelesaikan soal-soal di buku, Loli malah menguap dan tertidur.

Soal ujian kenaikan kelas mulai dibagikan. Loli hanya berhasil mengerjakan 10 dari 30 soal ujian. Bayangan tidak naik kelas kembali menghantui pikirannya. Tiba-tiba, Nadia menyodorkan lembar jawabannya.

“Sst … kamu boleh lihat jawabanku,” bisik Nadia. Loli meraih lembar jawaban Kity serta meletakkannya di bawah lembar jawaban milik Loli. Perlahan Loli menarik napas panjang, “Apakah ini pertolongan dari Tuhan?” tanya Loli dalam hati. Tetapi, Loli merasa sangat takut menyontek jawaban Nadia. “Tidak, aku tidak boleh melakukan kecurangan,” bisiknya pelan. “Lebih baik tidak naik kelas tetapi menjadi anak jujur,” tekad Loli pada dirinya sendiri. Loli menggeleng-geleng kuat berusaha menghalau ketakutannya dan bayangan tidak naik kelas.

“Loli, bangun, Nak.” Suara ibu membangunkan Loli. Rupanya Loli hanya bermimpi, sukurlah.

Matahari sore masih memancarkan cahaya redup, Loli melompat-lompat penuh semangat menuju rumah bu guru penuh semangat. Yah … Sejak mimpi buruk kemarin, Loli berjanji akan belajar sungguh-sungguh didampingi bu guru setiap sore. Bu guru membimbing Loli penuh kesabaran hingga akhirnya Loli mulai bisa mengerjakan soal matematika yang ada di buku. Tentu saja, Loli gembira bukan kepalang.

Ujian kenaikan kelas dimulai, Loli semakin giat belajar bukan hanya pelajaran matematika tetapi semua pelajaran. Berkat semangat dan ketekunannya, Loli berhasil mengerjakan ujian dengan baik. Saat pembagian rapor, Bu guru berkata, “Anak-anak, Ibu ucapkan selamat kepada kalian. Karena kalian semua naik kelas.”

Murid-murid kelas tiga bersorak gembira, mereka sangat bahagia terutama Loli karena bisa naik kelas. Nadia mendapat hadiah dari Bu Kancil karena mendapat nilai terbaik. Loli memberi ucapan selamat kepada Nadia. Dalam hati Loli tersenyum geli memikirkan mimpinya ketika Nadia menyodorkan lembar jawabannya. Loli jadi ingat nasihat Ibu bahwa nilai tidaklah terlalu penting tetapi kejujuran untuk mendapatkan nilai itulah yang utama.

Advertisements

Sirup Tradisional yang Kaya Manfaat

Beberapa pekan, lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang kerabat di daerah Probolinggo. Disana saya disuguhi minuman yang khas cita rasanya. Awalnya, saya mengira minuman itu teh hangat biasa karena kesamaan warnanya hanya saja lebih pekat. Tetapi setelah saya teguk hm…sensasi hangat langsung menempel di tenggorokan, manis, dengan aroma kayu manis yang kuat. Cita rasa minuman ini unik dan belum pernah saya temukan sebelumnya.

Usut punya usut ternyata minuman tersebut merupakan sirup tradisional khas Probolinggo. Penduduk setempat menyebutnya sirup pokak. Minuman ini seringkali disuguhkan saat hari Raya Idul Fitri. Sirup atau wedang jahe sereh ini adalah minuman wajib yang harus disuguhkan untuk tamu ketika lebaran. Namun, Kini sirup pokak dijual bebas sebagai oleh-oleh khas Probolinggo.

Bahan utama pembuatan sirup pokak antara lain jahe, kayu manis, serai, cengkih, kapulaga, dan gula aren. Perpaduan rempah-rempah tersebut menjadikan sirupbtradisional ini tidak sekedar nikmat tetapi juga kaya manfaat. Setidaknya ada lima khasiat wedang pokak jika diminum secara rutin. Sirup pokak sangat manjur mengatasi masalah pencernaan seperti mual, kembung, perut begah dan susah buang air besar. Minuman ini juga sangat ampuh mengusir nyeri perut ketika menstruasi. Kandungan jahe dan serai pada sirup ini dipercaya bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan bersifat detoksifikasi karena mampu mengeluarkan racun dari tubuh melalui keringat dan air seni. Khasiat terakhir minuman ini adalah mengatasi peradangan. Mulai dari peradangan di dalam rongga mulut, tenggorokan hingga saluran cerna di dalam perut. Selain itu, wedang pokak bisa dijadian sebagai suntikan energi untuk mengatasi lelah setelah beraktifitas

Bunda tak harus ke Probolinggo untuk menikmati secangkir sirup pokak yang nikmat dan berkhasiat. Kini Bunda dapat membuat wedang pokak di rumah dan menyajikannya untuk keluarga tercinta. Bahan-bahan pembuatan sirup pokak mudah dijumpai dan cara pembuatannya pun tidak rumit. Berikut merupakan resep sirup pokak khas Probolinggo, Jawa Timur:

Bahan-bahan:

  • 2 batang serai, iris-iris
  • 1 batang kayu manis
  • 2 buah kapulaga
  • 3 buah cengkeh
  • 2 cm jahe, iris tipis
  • gula aren atau gula merah
  • air secukupnya
  • Madu secukupnya

Cara membuat:

  1. Rebus semua bahan dengan air secukupnya hingga mendidih dan air berwarna cokelat pekat seperti teh. Biasanya juga akan tercium bau wangi dari air rebusan.
  2. Setelah mendidih, matikan api. Saring ke dalam gelas dan tambahkan madu secukupnya.
  3. Siap nikmati hangat.

Itulah resep dari wedang Pokak khas Kota Probolinggo. Sangat mudah kan, Bunda? Bila Bunda, ingin ada rasa segar di wedang pokak, Bunda bisa kok, menambahkan beberapa tetes air lemon ke dalam sajian wedang pokak. Selamat mencoba resep ini dan semoga bermanfaat.

#onedayonepost

Aliran Rasa Game Level 10

watercolour-2168655_640

Tidak seorang anak pun yang menolak untuk mendengarkan dongeng.  Maka, dongeng bisa digunakan sebagai salah satu tools parenting yang menyenangkan bagi anak dan orangtua.  Mengapa menyenangkan bagi anak dan orang tua? Yah, karena dongeng akan selalu mengalirkan kebahagian bagi keduanya.  Setelah melakukan tantangan Kelas Bunda sayang game level 10 yang bertema “Grab your Imagination” saya merasa menemukan energy baru untuk selalu dekat dengan buah hati.  Sebaliknya, anak-anak juga merasa exited mendengar dongeng setiap hari, mereka merasa memsuki dunia baru yang penuh imajinasi.

Dongeng merupakan cerita khayalan atau rekaan baik disampaikan secara lisan maupun tulisan.  Terkadang kisah-kisah dalam dongeng terdengar tidak masuk akal namun, tidak ada yang tidak menyukai dongeng.  Maka, kegiatan mendongeng menjadi rutinitas yang seru dan ampuh untuk mengajarkan karakter baik kepada anak tanpa merasa digurui ataupun dinasehati.

Selain itu, masih ada banyak manfaat mendongeng antara lain:

  1. Melejitkan imajinasi anak
  2. Meningkatkan kemampuan berbahasa bagi anak usia dini
  3. Menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral dalam diri anak
  4. Membentuk karakter positif dalam diri anak
  5. Sebagai penghibur dan penyembuh luka trauma psikologis bagi anak
  6. Meningkatkan konsentrasi
  7. Meningkatkan rasa ingin tahu
  8. Menumbuhkan dan mengembangkan minat baca pada anak
  9. Merekatkan dan menghangatkan hubungan antara orangtua dan anak

 

Awalnya, saya merasa kurang percaya diri saat mendongeng malah saya terbebani dengan berbagai teknik mendongeng.  Tetapi seiring semakin sering saya mendongeng rasa percaya diri juga tumbuh perlahan.  Apalagi saat melihat binary bahagia di mata sang buah hati kala mendengar dongeng.  Saat mendongeng memang sebaiknya fokus pada antusias diri sendiri daripada memusingkan segala teknik mendongeng.  Ketika kita bercerita dengan antusias, maka cerita akan terasa lebih hidup dan para pendengar akan lebih tertarik untuk memperhatikan. Untuk itu, utamakanlah membangun rasa antusias dibandingkan sibuk memikirkan tentang teknik mendongeng. Membangun rasa antuasias bisa dimulai dari memilih cerita yang anda sukai sehingga kitapun enjoy dalam bercerita.

 

#AliranRasa

#GrabYourImagination

#Gamelevel10

#KelasBundaSayangIIP

Grab Your Imagination Day 9

anak berhati surga.jpg

Tse Tse Anak Berhati Surga

Oleh Anittaqwa Elamaien

Catatan :  Kisah ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang ditulis oleh MH Putra dalam buku Anak Berhati Surga Penerbit Zettu 2013

Matahari bersinar terik memancarkan sinarnya menerangi bumi.  Terlihat sesosok bocah kecil  menggendong tas sekolah menyusuri jalanan sepi seorang diri.  Bocah itu bernama Tse Tse yang kini berusia 6 tahun dan duduk di kelas satu sekolah dasar.  Sesampainya di rumah Tse Tse membasuh wajah dan mencuci tangan.

“Hai … Pa, maaf aku meninggalkan Papa terlalu lama,” ujar Tse Tse.  “Apakah Papa baik-baik saja?” sambungnya lagi.  Lelaki yang terbaring di tempat tidur itu tersenyum melihat putrinya sudah pulang sekolah.  “Papa baik-baik saja,” sahutnya terbata.

Dengan cekatan Tse Tse menyiapkan bubur dan menyuapi papa yang sakit sehingga lumpuh sejak setahun lalu.  Tse Tse bocah mungil itu selalu setia mendapingi dan merawat papa.  Sebelum berangkat sekolah Tse Tse memasak air hangat untuk menyeka wajah dan tubuh, mengganti baju, menyuapi serta memijat kedua kaki papa.  Kemudian Tse Tse menyiapkan semua keperluan papa di meja agar papa tidak kesulitan untuk mengambilnya selama Tse Tse berada di sekolah.

Semenjak papa sakit, mama Tse Tse bekerja membanting tulang untuk menanfkahi keluarga dan biaya pengobatan papa.  Mama bekerja di pabrik yang jaraknya agak jauh dari rumah sehingga harus berangakat kala matahari belum terbit.

Kehidupan Tse Tse yang serba kekurangan tidak membuatnya menyerah dan putus asa.  Penuh kasih sayang Tse Tse merawat papa.  Tse Tse tidak pernah meninggalkan papa di rumah sendirian kecuali untuk sekolah.  Bagi Tse Tse, sekolah merupakan tempat yang paling menyenangkan.  Belajar bersama teman-teman dan guru yang baik membuat Tse Tse bahagia.

Kelak jika Tse Tse sudah dewasa dia ingin menjadi guru yang pintar.  Itu sebabnya, Tse Tse tidak pernah mengeluh harus berjalan kaki sejauh satu setengah kilo menuju sekolah.  Tse Tse selalu giat belajar agar cita-citanya terwujud.

Jika libur sekolah dan mama tidak bekerja di pabrik, Tse Tse akan membantu mama mengumpulkan botol air mineral bekas untuk mendapat tambahan penghasilan.  Suatu ketika, Tse Tse menemukan mainan mobil plastik di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang yang sangat berharga.  Setiap hari, Tse Tse akan meluangkan waktu sebentar memainkan mobil plastiknya.

Pernah suatu hari,  Tse Tse melihat boneka kecil lucu di etalase toko seharga 5 yuan.  Beberapa kali Tse Tse meminta mama membelikan boneka itu namun, mama selalu berkata tidak memiliki uang yang cukup. Lebih baik uangnya ditabung untuk kebutuhan pengobatan papa.  Bocah mungil itu terlihat menunduk mendengar ucapan mama, Tse Tse berusaha untuk mengerti.

Kehidupan yang semakin sulit dan biaya pengobatan yang bertambah mahal membuat papa menyarankan Tse Tse berhenti sekolah.  Mendengar keputusan papa, Tse Tse menangis tidak berhenti walau mama sudah membujuknya.

“Mama, izinkan aku tetap sekolah.  Aku janji akan merawat papa dengan baik.”  Suara Tse Tse terdengar parau di antara isak tangisnya.  “Aku juga janji rajin membantu Mama memulung barang bekas agar bisa membayar sekolah,” sambung Tse Tse pilu.  Mama tidak sanggup mendengar rintihan gadis kecilnya.  Mama memeluk Tse Tse dan berkata, “Anak baik kamu akan tetap sekolah.  Mama akan berusaha untuk bekerja dan mendapatkan uang untuk membayar sekolahmu.”

Angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun, tampaknya musim gugur akan segera tiba.  Penuh semangat Tse Tse kecil berlari-lari riang menuju sekolah agar tidak terlabat.  Sesekali dia melambai ke arah papa yang sedang duduk di kursi roda di halaman rumah.

“Terima kasih Ma, Pa karena telah mengizinkan aku tetap sekolah,” ujar Tse Tse lirih.  Bagi Tse Tse tidak mengapa tidak memiliki boneka kecil lucu asalkan tetap bisa sekolah dan belajar bersama teman-teman.

#Grabyourimagination

#Day9

#Gamelevel10

#KuliahBunSayIIP

Okto ke Sekolah

Nun jauh di lautan tropis yang hangat, dalam dan biru, anak-anak Lobster, kepiting,  kura-kura, dan berbagai jenis ikan sibuk bersenda gurau saat berangkat sekolah.
“Lihatlah Okto, teman-temanmu tampak sangat gembira pergi sekolah,” ujar Ibu Gurita kepada anaknya.  “Apa kau tak ingin sekolah seperti mereka?” lanjut ibu.

Okto si anak Gurita melihat teman-teman dengan ujung ekor matanya sekilas saja, “Nggak ah,” gumam Okto sambil menggeleng.
“Sekolah itu penting Okto,” tegas ibu.  “Mencari ilmu sungguh menyenangkan.  Pergilah sekolah, belajarlah dan bersenang-senanglah,” jelas Ibu Gurita panjang lebar.  Okto pura-pura tidak mendengar penjelasan ibunya, dia sibuk memainkan Lego membentuk kereta api cepat.

Ibu Gurita menghela napas panjang, sudah berhari-hari beliau membujuk Okto agar mau belajar di sekolah, tapi tampaknya sia-sia saja.  Putra satu-satunya itu beranggapan kehidupan di luar rumah berbahaya.
“Di luar sana banyak bahaya mengintai, Bu,” sanggahnya suatu hari kala Ibu Gurita memintanya pergi sekolah.

Rasanya percuma saja menyuruh dan membujuk Okto agar mau belajar di sekolah.  Untung saja Ayah Gurita datang di saat tepat.
“Pergilah sekolah,” ucap Ayah Gurita tegas.  Okto menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Bukankah ada bahaya di mana-mana di luar rumah,” sergah Okto.  “Bagaimana jika tiba-tiba hiu mengamuk? Gimana jika ada penyelam menculikku? Gimana jika ada jaring nelayan menyergap? Lantas apa yang terjadi jika tiba-tiba ada badai?” sambung Okto berapi-api.  Ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
“Engkau anak gurita yang hebat pasti bisa menaklukan semua bahaya di luar sana,” jawab ayah lugas.  “Percayalah pada ayah bahwa Allah akan melindungimu.”

Gusar dan takut bergelayut di wajah Okto kala berangkat sekolah.  Ayah dan ibunya melambaikan tangan, “Bersenang-senanglah!” seru ayah.  Sesampainya di sekolah Okto hanya duduk di kursi di dalam kelas walaupun semua temannya asyik bermain di luar kelas.  Tawa dan suara mereka terdengar bersahutan.  Bel masuk kelas berbunyi, Ibu Puff guru kelas satu sudah berdiri di depan kelas.  Ibu Puff adalah seekor ikan gembung yang bisa menggelembungkan tubuhnya dan mengeluarkan duri saat ada bahaya mengancam.

image

Hari ini Ibu Puff bercerita tentang kehidupan laut.  Saking serunya tak terasa bel tanda istirahat berbunyi.  Murid-murid berhamburan keluar kelas, mereka bermain sangat gembira.  Kecuali Okto, ya Okto hanya duduk di dalam kelas walau dia sangat ingin bergabung dengan teman-temannya.  Tiba-tiba terdengar teriakan kura-kura, “Awas hiu mengamuk !” Semua murid berenang menjauh dan bersembunyi diantara bebatuan dan karang.

Okto segera berenang keluar, tapi terlambat.  Hiu besar menyeringai di depannya memamerkan gigi-gigi tajam dan runcing.  Okto surut ke belakang tersudut di pojok kelas, badannya gemetar dan wajahnya pias.  Hiu semakin mendekat, jarak mereka hanya sekian jengkal saja.  Tak ada celah untuk lari, Okto semakin ketakutan.  Hiu siap menerjang dan tiba-tiba BEM! Sekitar tubuh Okto dipenuhi cairan hitam yang mengaburkan pandangan.  Okto berenang menjauh mencari tempat persembunyian.  Kali ini si hiu galak kehilangan mangsa.

Ibu Puff bernapas lega semua muridnya selamat.  Okto dikerumuni teman-temannya, “Wah Okto hebat dech,” puji teman-teman.  “Iya kamu berani sekali,” sambung ikan Kakap.  Okto tersipu malu diganjar pujian dari teman-teman.  Sejak saat itu Okto tidak pernah takut pergi sekolah, karena dia tahu bahwa dirinya memiliki kantung tinta yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri bila ada bahaya.

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#Day24

Rembulan di Puncak Prambanan part 8

Akad nikah berlangsung lancar dan cepat disambut senyum dan tangis haru para kerabat. Hidup ini sungguh aneh dan unik. Siapa yang menyangka, ayah akan menikah lagi dengan sepupu bunda yang belum pernah ditemuinya. Dan sungguh aku pun tidak menduga akan punya adik lelaki.

Senyum lebar dan mata penuh binar ceria terus terpampang di wajah ayah dan Tante Kemuning. Mereka berdua sibuk menyalami tamu undangan dan kerabat yang mengucapkan selamat. Lantas bagaimana dengan diriku? Tak ada yang memerhatikan. Aku benar-benar tersingkir.

Hingga senja, kedua pengantin masih saja sibuk bercengkerama dengan kerabat dari pihak ayah dan Tante Kemuning. Aku memilh untuk duduk menyendiri di balai bambu yang terletak di halaman belakang sambil menikmati tingkah polah ayam-ayam peliharaan eyang.

“Hei … Nona kecil, jangan ngelamun aja nanti ayamnya pada mati, lho.” Sebiah suara maskulin milik Om Adam membuyarkan kesepianku.

“Ih, siapa juga yang ngelamun,” sangkalku ketus.

“Buktinya manyun sendirian di sini,” goda Om Adam. Alis mata kirinya yang tebal terangkat. Aku menunduk diam tak mampu berucap.

“Ehm, Om mau jalan-jalan ke Prambanan. Ikut nggak?” ajak Om Adam. Mendengar tawaran menarik itu, tentu saja aku langsung setuju. “Mau … mau,” sahutku semangat.

“Ok, kita langsung berangkat. Rian juga ikut tuh. Oiya, minta izin dulu sana sama Ayahmu,” saran Om Adam

Sambil berlari kecil aku menuju ruang tamu hendak menemui ayah. Tetapi, hatiku tercekat kala meyaksikan Hafidz duduk manja di pangkuan ayah sementara Tante Kemuning duduk di sebelah ayah begitu sumringah. Hati ini seperti tersayat, sakit dan perih. Baru beberapa jam mereka resmi menjadi bagian hidupku dan ayah. Namun, Hafidz sudah mengambil alih ayah seolah sudah sangat akrab.

Kuputuskan untuk berbalik arah dan meninggalkan ayah yang sedang bercanda dengan keluarga kecilnya. Kupikir ayah tidak akan kehilangan diriku jika aku pergi tanpa pamit. Dengan langkah terburu aku naik mobil yang sudah menyala mesinnya. Om Adam berada di balik kemudi dan Mas Rian mendapinginya di kursi depan.

“Ayo Om, kita berangkat,” pintaku memecah keheningan. Sebentar kemudian, kijang inova sudah bergerak meninggalkan halaman rumah eyang, menyusuri jalanan desa yang beraspal mulus. Jarak rumah eyang ke Prambanan tidak terlalu jauh. Tiga puluh menit berkendara kami sudah sampai di candi seribu yang megah dan anggun.

Bersambung…

Rembulan di Puncak Prambanan Part 7

“Apakah bocah 12 tahun sepertiku mudah berubah pikiran?” tanyaku dalam hati. Aku masih saja tidak mengerti dengan perasaan dan pikiranku. Sebentar aku tak ingin berbagi ayah dengan siapa pun sebentar kemudian, berubah karena belas kasihan.

Masih lekat di ingatanku kala bunda mengatakan biarpun aku bandel dan susah diatur sebenarnya aku anak yang berhati lembut. Bunda juga pernah bercerita ketika usiaku masih lima tahun, aku menangis tidak berhenti saat anak ayam peliharaanku mati.

Jadi kupikir keputusanku mengizinkan ayah menikah lagi merupakan sesuatu yang benar sesuai naluriku. Walaupun aku belum benar-benar ihlas berbagi ayah dengan Tante Kemuning dan Hafidz.

Kembali kulakukan perjalanan ke Klaten. Kali ini bukan berdua saja dengan ayah tetapi, hampir semua keluarga besar ayah turut serta. Kakek, nenek, pakde, bude, tante Mura bersama suami dan putri kecilnya, Om Adam adik bungsu ayah dan Mas Rian putra sulung pakde. Rombongan pengantin pria dari Surabaya melaju membelah jalan raya menggunakan dua mobil yang berbeda.

Kupandangi ayah, beliau kelihatan sangat gagah mengenakan stelan jas hitam dan peci warna senada. Di usia yang memasuki angka 38, ayah masih terlihat charming dan dewasa. Wajah oval dengan hidung kecil tinggi. Dahi sedikit lebar justru membuat ayah seperti pria cerdas yang kaya ide-ide briliant.

Aku paling suka mata ayah indah dan memesona. Mata bulat lebar dengan manik hitam memancarkan pandangan yang teduh dan penuh kasih sayang. Mata ayah juga membuat bunda jatuh cinta. Mata yang tajam dihiasi alis tebal dan ceria kelihatan kalau penuh tanggung jawab.

Sementara di sebelah ayah, Tante Kemuning duduk sambil menundukkan muka. Berkali-kali, aku memergokinya menghela napas panjang serta memainkan jari jemarinya. Entah sudah berapa lembar kertas tisu beliau habiskan untuk menyeka peluh di sekitar dahi dan hidung. Tante Kemuning sangat anggun memakai gaun putih dengan renda pink.

Sekarang aku tahu, apa yang membedakan bunda dan Tante kemuning walaupun keduanya mirip. Bunda selalu terlihat penuh semangat, ceria, energik serta ekspresif. Gestur tubuh bunda sangat mudah dibedakan ketika gembira, sedih ataupun marah. Sedangkan Tante Kemuning lembut keibuan, sorot matanya sayu dan teduh. Sangat hati-hati saat berbicara seolah ingin menyembunyikan emosi yang sebenarnya.

Sebelum akad nikah dilaksanakan, Hafidz melafalkan surah Ar-Rahman tanpa membaca Alquran. Suaranya bening dan merdu. Tanpa kusadari rambut-rambut di sekujur tubuhku berdiri. Lantunan ayat suci Hafidz sangat indah serta menyentuh kalbu. Beberapa hadirin ada yang melelehkan air mata karena terharu.

Hafidz sangat istimewa. Tiba-tiba muncul kekhawatiran di hatiku bahwa ayah akan lebih menyanyangi Hafidz daripada aku. Pernah kudengar ayah berseloroh ingin memiliki seorang putra yang hafal Alquran. Sayangnya bunda tak lagi bisa hamil setelah melahirkanku. Dan kini, Hafidz hadir seakan memenuhi keinginan ayah. Haruskah aku tersingkir? Oh mengapa ketakutan ini sangat mengangguku. Tidak… aku tidak mau Hafidz merebut ayahku.