Blog

Insomnia

bed-2053556_640

Sudah setahun terakhir Sinta menderita insomnia, sekalipun lelah dan penat dia tak bisa memejamkan mata.  Seringnya menjelang sepertiga malam barulah dia tertidur lelap.  Repotnya pasti susah bangun pagi.  Terlambat kuliah sudah biasa dia lakoni.  Tapi, tidak untuk esok hari.  Sinta harus bangun lebih cepat karena ada ujian jam 7 pagi.  “Tidak boleh terlambat,” ucapnya lirih.

Jam weker dan alarm di gadgetnya sudah diset berdering pukul 5.  Walau dia sendiri tidak yakin akan membantu membangunkannya.  Sehingga, Sinta juga menulis pesan di secarik kertas buat Vina teman kostnya.  Tolong bangunin jam 5, ya Vin.  Makasih sis.  Kertas itu diletakkan di meja rias Vina.

Matahari menyemburat masuk melalui kisi-kisi jendela menerpa wajah Sinta.  Dia tergeragap dan segera melihat jam dinding.  Wajahnya pias karena dia terlambat bangun.  Sambil menggerutu Sinta masuk kamar Vina namun, gadis cantik itu sudah berangkat ke kampus.  Mata Sinta terbelalak kala membaca pesan Vina yang ditulis tepat di bawah coretannya.  Sin, bangun sudah shubuh.

Aliran Rasa Tantangan Kemandirian

IMG-20170803-WA0003.jpg

Kedisiplinan dan kekonsistenan saya, benar-benar teruji di game level 2 ini.  Kegiatan yang bertumpuk dipadu dengan rutinitas rumah tangga menghadirkan rasa yang berwarna.  Bahkan saya harus tertatith-tatih membuat laporan tantangan kemandirian anak-anak.  Duh… aliran rasa pun telat dikumpulkan.  Satu pelajaran yang saya peroleh dalam menghadapi dan menyelesaikan game level 2 yaitu semangat dan niat kuat saja tidak cukup.  Perlu dukungan seluruh anggota keluarga dan doa yang kenceng banget agar Allah memudahkan segala urusan.

Pada hakikatnya melatih kemandirian anak tidak akan pernah tuntas.  Raisa memang sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri, menyiapkan keperluan sekolah sendiri dll.  Kemandirian social juga sudah berkembang baik, dia sudah bisa main sendiri  dengan teman sebaya, tidak merengek di sekolah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.  Namun, masih banyak  tantangan kemandirian yang harus dilaluinya seiring dengan bertambahnya usia Raisa dan berputarnya waktu.

Selama 10 hari bahkan lebih saya dan suami saling bahu membahu melatih kemandirian anak-anak.  Banyak pelajaran dan penuh hikmah tidak saja buat anak-anak tapi juga buat kami.  Saya harus belajar membiasakan dan memberi kepercayaan keoada buah hati bahwa mereka mampu melayani dirinya sendiri.  Saya pun harus belajar menjadi ibu tega agar tidak selalu interupsi terhadap kegiatan mereka.  Membiarkan anak-anak menyelesaikan pekerjaan mereka dan sabar menikamati proses serta tidak terburu-buru membantu ketika mereka mengalami kesulitan.

Tantangan demi tantangan yang kami rasakan bukanlah seuah rintangan namun pembelajaran bagi agar tumbuh Adversity Quotient (kecerdasan menghadapai kesulitan) .  Seorang ayah dan ibu sebagai fasilitator dan home educator dituntut untuk memfasilitasi anak agar memiliki  Adversity Quotient (AQ) tinggi.  Seseorang yang memiliki diharapkan akan menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, pantang menyerah, menjadi pembelajar seumur hidup dan mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

Ketika kami melatih kemandirian anak kami juga mendapat bonus berupa anak-anak yang percaya diri dan bertanggung jawab.  Kami semakin bersyukur menikmati tiap tantangan dan selalu berharap semoga selalu istiqomah melatih kemandirian anak hingga bukan sekedar bisa mengerjakan tugas saja tetapi juga menjadi kebiasaan.  Memang butuh waktu yang tidak pendek untuk sampai pada habit (kebiasaan) setidaknya 90 hari harus dilewati tanpa kelus kesah apalagi menyerah.

Terima kasih kepada tim fasilitator yang terus memberi pencerahan dan materi-materi yang sangat inspiratif.  Rasa sayang dan terima kasih juga buat teman-teman kelas BunSay 2 yang selalu mengalirkan semangat dan menghadirkan keceriaan.  Semoga tantangan berikutnya lebih baik lagi.  Aamiin.

#AliranRasa

#GameLevel2

#KelasBunSayIIP

Melatih Kemandirian Day 10

Tantangan melatih kemandirian sudah memasuki hari ke 10, rasanya justru Bunda yang mengalami banyak kendala karena tidak bisa membuat laporan setiap hari.  Sementara Raisa so far sangat menikmati tanggung jawabnya yang baru diembannya.  Motivasi dalam dirinya sangat tinggi untuk bisa mengerjakan tantangan kemandirian yang Bunda berikan. Namun, seperti halnya anak-anak usia 5 tahun, Raisa terkadang masih harus dingatkan dan distimulasi lagi.

Seperti halnya hari ini, Raisa dan saya akan mengikuti kelas Offline IIP Surabaya Raya tentang Jarimatika yang akan disampaikan oleh Bunda Ratih.  Sejak malam sebelumnya, saya sudah memberitahu Raisa jika hari Kamis, Raisa ijin tidak masuk sekolah.  Sebagai gantinya Raisa akan belajar bersama Bunda.  Dia tampak sangat antusias sehingga banyak sekali pertanyaan yang diajukannya.  Misalnya, “tempatnya jauh, nggak?” dan “Nanti disana ada siapa aja temanku?” serta masih banyak rentetan pertanyaan lainnya hingga dia kelelahan dan tertidur.

Sejak malam hujan mengguyur Surabaya bahkan belum juga reda menjelang pagi.  Namun, hawa dingin tidak menyurutkan langkah kami menuju tempat belajar jarimatika yang tidak terlalu jauh dijangkau.  Saya sudah memberitahu gadis kecil itu kalau dia diperbolehkan membawa mainan dan bekal makanan.  Alih-alih menyiapkan kebutuhannya, Raisa malah asik menggambar walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 6.30.  Padahal kami harus berangkat sebelum pukul 08.00 wib ketika acara dimulai.

Penyakit lama saya kambuh lagi, yaitu melakukan interupsi dan mulai memberi komando.  “Dik ayo mandi udah siang, nih!”  perintah pertama.  Raisa tetap asik dengan kertas dan spidolnya.  Gemes bin greget tiba-tiba nyelonong masuk ke beranda hati. Huah… tarik napas.  Sabar… Sabar hayuk ah kembali waras.  Alhamdulillah otak saya masih bekerja nomal.  Tarik-ulur dengan Raisa hingga akhirnya dia mau beranjak ke kamar mandi.  Bukan sekedar mandi tapi diselingi bermain air dan sabun sementara waktu terus berjalan maju.

“Sudahlah kalau memang terpaksa terlambat tidak apa-apa, setidaknya saya sudah berusaha untuk dating tepat waktu.”  Begitu pikir saya.  Maka, saya membiarkan Raisa menikamati acara mandinya. Selesai mandi apa semua akan berjalan lancar? Tidak, saudara!  Raisa berdiri bengong di depan almari pakaiannya.  “Aku pakai baju apa, Bun?” Tanya Raisa setelah beberapa menit berlalu.  Saya menarik napas panjang lagi, sabar… Sabar.  “Adik pakai baju apa aja boleh asal menutup aurat,” jawab saya singkat.  Raisa mengambil baju merahnya, “Yang ini boleh?” tanyanya lagi dan langsung saya sahut dengan anggukan kepala.  Dalam hati sih saya kepingin mengambil baju itu lalu memakaikannya, menyisir rambutnya dan memakaikan jilbab.  Lalu cus berangkat.  Namun, saya harus menahan semua keinginan itu.  Termasuk menyiapkan bekalnya.  Sedikit gusar saya menunggu Raisa memilih mainan yang akan dibawanya, mengambil susu kotak, memasukkan kue-kue ke kotak makan dan memasukkan semuanya ke dalam tas.

Bener deh di tantangan melatih kemandirian, saya hampir gagal karena berkali-kali ingin melakukan interupsi dan mengambil alih semua tanggung jawab Raisa.  Saat melatih kemandirian anak, ibu dan orang dewasa disekitarnya harus tega membiarkan anak melakukan tanggung jawabnya sendiri.  Rasanya konsep inilah yang harus saya pegang teguh agar latihan kemandirian anak bisa sukses.  Yah, bagaimana anak akan mandiri jika orang tua selalu ikut campur.  Saya merasakan sulit sekali menahan keinginan untuk menolong ketika terburu-buru karena waktu yang kian sempit atau saat anak mengalami kesulitan.  Walaupun, banyak hal yang dapat dipelajari seorang anak ketika menghadapi hambatan atau mengalami kegagalan.  Sebagai orang tua hendaknya memang harus bijak menempatkan diri kapan menjadi motivator , menjadi penonton atau menjadi penolong.  Semoga Allah memberi kemudahan dan kelancaran sehingga saya tetap istiqomah melatih kemandirian pada diri Raisa.

 

#Gamelevel2

#Day10

#MelatihKemandirian

#KelasBunsayIIP

Siap Sekolah

Sepulang sekolah senin lalu, Raisa bercerita tentang temannya si A yang tidak mau ditinggal ibunya.  Si A menangis bahkan memukul ustadzah.  “Oh… kenapa gitu, ya,” sahut saya memancing.  “mungkin si A takut, Bunda.” logis jawaban Raisa.  “Kalau Raisa gimana, takut nggak belajar di sekolah tanpa ditunggu Bunda?”.  Raisa tersenyum lebar smbil mencomot potongan semangka dia berujar, “Ya, enggak lah, Bun.  Kan ada Allah yang jagain.  Lagian ustadzah dan teman-teman baik semua jadi ngapain takut.”  Saya tersenyum lega.

Sore ini, Raisa dan saya berjibaku di dapur membuat puding untuk bekal sekolah esok hari.  Raisa mau membawa puding coklat dengan fla susu.  Memang dapur menjadi berantakan dan lebih kotor.  Namun, melibatkan anak memasak bekal sekolahnya akan membuat anak lebih semangat ke sekolah.  Selain itu, saya juga bisa melatih Raisa mengenal alat-alat memasak, cara memasak sederhana dan belajar keamanan diri ketika memasak di dapur.  Taraaa, puding coklat sudah jadi tinggal menunggu dingin saja dan siap menjadi bekal sekolah yang sehat.

Seperti biasa, Raisa bagun shubuh dan menjalankan aktivitas pagi.  setelah itu Raisa olahraga jalan pagi keliling komplek bareng Ayah.  Tanpa dikomando. Dia mandi dan berpakaian.  Karena seragamnya belum jadi Raisa memakai baju muslim, tentu saja dia memilih baju pink, warna kesukaannya dipadu dengan kaos kaki warna senanda.  Kali ini, Raisa menyiapkan bekalnya sendiri.  Tangan mungilnya mengambil lima potong puding dan dimasukkan ke tepak.  Menurut Raisa, satu potong akan dimakannya dan sisanya akan diberikan untuk Lyla, Khaira, Qonita dan Kayla.  Saya tersenyum, anakku ini selalu ingat temannya jika memiliki sesuatu.  semoga engkau selalu berbagi, Nak.  Oiya… Raisa juga mengisi botol minumnya sendiri menunjukkan motorik halusnya sudah berkembang sedikit air tumpah tak apalah.  Terpenting bagi saya, Raisa sudah mau melayani dirinya sendiri dan berusaha melakukan dengan baik.  Dan esok, semoga Raisa mampu menghadapi tantangan yang lebih menyenangkan lagi agar kemandiriannya semakin terlatih.

#GameLevel2

#Day9

#MelatihKemandirian

#KelasBunsayIIP

 

Berangkat Sekolah

learn-2412781_640.jpg

Sudah seminggu, Raisa (5 th) sekolah.  Sabtu yang lalu saya berkesempatan bertemu dengan guru wali kelas Raisa.  Momen tersebut saya gunakan untuk berdialog tentang keadaan putri saya selama di sekolah.  Saya sedikit terkejut dengan penuturan Ustadzah Ami.  Menurut beliau Raisa sangat mandiri dan sering membantu temannya di kelas.  Termasuk meminta ijin bila ingin ke toilet.  Bukan hanya itu, Raisa juga selalu membagi bekalnya untuk kawan-kawannya.  Dia terlihat sangat dewasa.

Syukur yang dalam selalu saya panjatkan kepada Allah SWT,   Raisa menunjukkan kemajuan yang pesat dalam hal berlatih kemandirian.  Dia sudah bisa bangun sendiri diwaktu shubuh dan terbiasa membereskan tempat tidur.  Minggu kedua saya mulai melatihnya menyiapkan sendiri bekal dan perlengkapan sekolah.  Mandiri menyiapkan bekal sekolah bukan berarti harus membeli atau memasak bekalnya namun, bisa memutuskan ingin membawa bekal apa dan memasukkan kotak bekal ke tas sekolah.  Sementara menyiapkan perlengkapan sekolah bisa diawali dengan menyiapkan kaos kaki dan seragam sekolah yang akan dipakainya.

Malam hari sebelum tidur Raisa mengutarakan keinginan untuk membawa bekal martabak mie dan susu.  Sewaktu saya tanya kenapa ingin bawa martabak mie lagi.  Jawabnya singkat dan menyentuh hati, karena teman-temannya suka martabak mie buatan Bunda apalagi kalau dikasih sosis.

Semangat senin, setelah sholat shubuh Raisa menyiapkan sendiri kaos kaki dan seragam yang akan dipakainya.  Sementara Raisa mandi, saya membuat martabak mie plus toping sosis sapi.  Setelah sarapan, Raisa memasukkan kotak bekal dan susunya ke dalam tas, memakai sepatu dan siap berangkat sekolah.  Lega tak terkira, putri mungilku sangat antusias sekolah.  Bahagia yang menjalari hati bersambut doa semoga Raisa selalu gemar belajar, selalu mandiri, berempati dan suka menolong orang lain.

Melatih kemandirian anak mulai dari hal sepele sangat berpengaruh pada kepribadian si anak.  Rasa percaya diri yang tumbuh membuatnya mudah bersosialisasi dengan teman dan lingkungan baru.  Hal ini, tentunya juga berhubungan dengan kemandirian sosial si anak.  Dia mampu main dengan teman baru tanpa didampingi dan juga mampu belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

#Game level2

#day8

#MelatihKemandirian

#KelasBunsayIIP

Sri Pulang Kampung

Wajah Sri sumringah mendapat tiket pulang kampung.  Seminggu lebih cepat dari jadwal semula.  Berada di Jeddah tiga tahun lamanya seolah memintal rindu tak berujung.  Sri membayangkan, Lintang putra semata wayangnya akan melonjak kegirangan dan sang suami akan terkejut bahagia bila Sri tiba di rumah.  Senyum ceria Sri terus terbawa tidur hingga esok terbangun.

Taksi Bandara mengantar Sri ke kampung kelahirannya.  Alunan lagu dangdut semakin keras terdengar kala Sri mendekati rumahnya.  Seketika wajah Sri pias dan jantungnya nyaris lepas.  Sang suami yang selalu dicintai dan dirindukannya duduk di pelaminan berdampingan dengan wanita tetangganya.

#BelajarnulisFF

#Day1

Aku Bisa Bangun Sendiri 2

Hembusan angin dingin menyelusup melalui jendela, saya merasakan kesejukan kala fajar menyapa.  Seperti biasa, bakda sholat shubuh saya lanjutkan dengan tilawah Al-Quran.  Saat itulah Raisa tergeragap bangun dari tidurnya yang lelap,  “Sudah shubuh, ya Bun?” Raisa mengucek matanya.  Saya hanya mengangguk.  seketika wajah Raisa berubah menunjukkan rasa tidak suka, “Kok, Bunda nggak bangunin aku sholat shubuh?” protesnya keras.

Saya duduk di samping Raisa, “Bukannya kemarin Raisa sendiri yang bilang kalau sudah bisa bangun sendiri?”  Saya balik bertanya.  Gadis kecilku hanya terdiam, bibirnya terlipat manyun, tampaknya dia masih kesal.  “Kalau Raisa sudah bisa bangun, maka Bunda nggak perlu bangunin lagi.  Itu tandanya Raisa sudah semakin pintar dan nggak perlu pertolongan dari Bunda atau Ayah,” jelas saya panjang lebar.

Selepas Raisa sholat shubuh, saya menceritakan sebuah kisah tentang seorang anak yang selalu mendapat pertolongan dari kedua orang tuanya.  Suatu ketika, sang anak mengikuti persami (perkemahan sabtu dan minggu).  Anak tersebut selalu bangun kesiangan dan tidak bisa melayani keperluannya sendiri.  tugas-tugas yang diberikan pembina yang tidak dapat dikerjakan dengan baik.  Akhirnya dia merasa kurang percaya diri.

Alhamdulillah, setelah mendengar kisah sang anak yang tidak mandiri, Raisa memiiki motivasi untuk bangun sendiri di waktu shubuh.  “Bunda nggak usah bangunin aku lagi,” ucapnya ceria.  Hari minggu menjadi saksi jika Raisa menunjukkan komitmennya untuk bangun sendiri seperti janjinya kemarin.

#Level2

#Day8

#melatihkemandirian

#KelasBundaSayangIIP